Jumat, 23 Mei 2025

Tak Pernah Benar-Benar Memiliki

 

Rima sedang menyelesaikan tugasnya hari itu yang cukup padat, kebanyakan orang mengejar deadline diakhir bulan akan tetapi Rima justru sibuk di awal bulan dan landai di akhir bulan. Seperti biasa sambil bekerja sesekali diselingi senda gurau dengan rekan seruangan, sekedar untuk menyegarkan suasana. Terkadang diselingi menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Sepotong pisang goreng dibiarkan tergeletak sudut meja kerja yang belum sempat dimakannya.

Dimeja sebelah Arim tak kalah sibuk dengan tugas hariannya dia pekerja yang  efektif sehingga setiap perkajaan diselesaiakan dengan lebih cepat. Tatkala satu tugas telah tuntas sesekali dia bercanda dengan teman disekitarnya. Arim duduk persis disebelah Rima. Berdua sering menyelingi kegiatan harian s, ambil ngobriol random tanpa tema, terkadang keseruan orbolan  membuat  orang satu ruangan menoleh kearah mereka, sebagian ikut tersenyum senang karena suasana kerja menjadi hangat, obrolan candaan yang semata-mata sebagai penyegar suasana untuk mengurangi kejenuhan akan tugas-tugas rutin.  

Rima dan Arim  berasal dari kampus yang sama, terpaut beberapa angkatan, jiwa korsa menyatukan mereka sehingga sejak awal perjumpaan tak ada kecanggungan bahkan serasa telah  kenal cukup lama. awal pertemuan diisi dengan saling mengenalkan diri  nama panngilan apa dan mau dipanggil apa dan selanjutnya, pertemanan mereka mengalir begitu alamiah. 

Kesamaan tugas sehari-hari memungkinkan mereka saling mengisi, saling bantu, saat Rima lebih sibuk maka Arim membantunya demikian juga sebaliknya, berdua menjadi tim yang kompak. sehingga semua pekerjaan selesai sesuai jadwal dan selesai di jam kerja.

Semakin hari keduanya semakin nyaman dalam kebersamaan di lingkungan kerja, memahami karakter masing-masing saling bercerita mulai dari hal-hal ringan sampe curhatan masalah keluarga bahkan masalah pribadi, mengetahui detil apa yang disuka dan tidak disuka diantara keduanya. Mulai makanan kesukaan, tema obrolan yang disukai dan tidak disukai. Keduanya saling percaya menitipkan cerita masing-masing atau hanya sekedar untuk berbagi cerita that's all. Persahabatan keduanya layaknya saudara. Usia mereka terpaut 5 tahun dalam benak Rima, Arim sebagai kakak laki-laki, yang tidak dimilikinya di keluarga, dia begitu happy memiliki kakak laki-laki (walau bukan sebenarnya), dia terkadang manja terkadang nyebelin bahkan ngeselin. Arim tak segan menegur bahkan memarahi Rima ketika dia melakukan kesalahan ntah pekerjaan atau kurang pas dalam memilih warna/ model pakaian. 

Benar kata orang tidak ada persahabatan yang benar-benar tulus antara 2 makhluk hidup yang disebut manusia dengan nama laki-laki dan perempuan, salah satu baper atau kedua-duanya, mulai timbul rasa nyaman, mulai ada rasa kosong saat yang lain tidak menampakkan diri atau bahkan keduanya mulai ada  rasa ketergantungan emosi alias candu. Sungguh semua terjadi begitu saja tanpa rekayasa tanpa perencanaan. Walau demikian keduanya sama-sama enggan berterus terang, pura-pura  seolah-olah tidak ada apa-apa. lebih tepatnya tidak pernah barani mengakui. Karena berdua sadar sebesar sekuat apapun rasa.... di depan mata membentang  tembok beton raksasa yang susah ditembus apalagi dirobohkan. Server peribadatan yang berbeda membuat mereka berdua berpikir seribu kali untuk memulai sebuah perjalanan bersama. Sampai suatu hari mereka harus berpisah karena mutasi.

Perjalanan hidup terkadang memang tak bisa ditebak, semesta mengirimkan jodoh terbaik untuk Rima dan Arim, jodoh yang direstui keluarga.

Sepuluh tahun berlalu tak disangka Rima dan Arim kembali dipertemukan melalui teknologi informasi. Obrolan terjalin kembali sebagaimana dulu mereka masih sekantor. Dalam sehari mereka menyempatkan berbincang melalui aplikasi gtalk, obrolan receh sekedar mengenang cerita lama, nyaman sama seperti dulu. Sampai suatu hari pengakuan Arim begitu mengejutkan Rima, “sebenarnya sejak dulu aku sayang kamu” , begitu chat Arim, bak petir menyambar di siang bolong. Badan Rima gemetar….dunianya serasa runtuh, air mata tak terbendung. Segala rasa campur aduk jadi satu, terkejut, marah, kecewa, tak pernah mebayangkan Arim akan berterus terang, walau demikaiann ada sedikit kelegaan hati Rima bahwa selama ini perasannya tidak salah. 

Tapi apalah arti pengakuan hari ini… buat apa, saat semua telah memilih jalan sendiri, semua sudah terlambat. Benar-benar pengakuan yang tidak lagi berguna. Sita menumpahkan kemarahannya melalui telpon. 

Please.. kamu jangan marah please, tak kalah gemetar suara Ika diseberang telpon. Aku sudah tidak lagi kuat menyimpan sendiri, kamu harus tahu yang sebenarnya, itu saja!!.. Keduanya saling terdiam, sambal sesekali terdengar helaan nafas dalam. Tak terasa air mata Rima mengalir perlahan dia terduduk lunglai, pelan Rima mulai mengatur nafas menenangkan diri. 

Ketika telah sama-sama tenang.. Rima memulai lagi pembicaraan, “terus maumu apa sekarang? Apakah itu mengubah keadaan?” Tanya Rima, “Tidak juga, supaya kamu tahu saja isi hatiku”, jawab Arim, “konyol, gila kamu”, Rima menimpali. “ Ya gimana lagi, aku juga tidak tahu harus bagaimana”, gumam Ika.

Dua minggu sejak peristiwa itu, Arim mendapatkan penugasan di kota dimana Rima tinggal, kota tempat pertama kali mereka bertemu. Keduanya janjian bertemu pada saat makan siang, pertemuan di kantor itu mengingatkan mereka akan situasi sepuluh tahun lalu, akan tetapi suasana menjadi berbeda, canggung, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

“Bagaimana kabarmu”, Arim memecah kekakuan. “Kabarku baik, kamu bagaimana?” Rima balik bertanya.“Aku baik juga”, jawab Arim.

“Syukurlah, aku ikut senang”, gumam Rima. 

“Iya terimakasih”, balas Ika dengan suara nyaris tak terdengar.

“Maaf ya untuk keterusteranganku, kalau itu menganggumu”, Arim lagi-lagi berusaha mencairkan suasana.

“Iya gapapa sudah terjadi, setidaknya aku jadi tahu yang sebenarnya walau itu sedikit membuatku terguncang, bagaimanapun hari ini kita sudah memiliki jalan masing-masing dan ada hati yang harus dijaga tidak boleh disakiti apapun alasannya, masa lalu telah lewat, sudah menjadi sejarah bagi perjalananku dan perjalananmu, ya...apapun..aku tetap terimakasih atas kejujuranmu”, ucap Rima sambil membiarkan matanya menerawang jauh.

“ owh iya...tugasku sudah selesai maaf besok aku harus balik”, pamit Arim sambl mengulurkan tangannya, "iya gpp..tidak perlu minta maaf tidak ada yang perlu dimaafkan, semua terjadi tentu ada pesan semesta yang ingin disampaikan.. ntah apa aku belum menemukannya, mungkin dengan berjalannya waktu kita akan sama-sama paham", ucap Rima sambil menggenggam tangan Arim.

“Dan silakan pulang dan  memang kamu harus pulang, disini bukan rumahmu, selamat jalan, semoga perjalananmu lancar selamat sampai tujuan”. Mereka beradu pandang, senyum kecil mereka sematkan diakhir pertemuan.

Keesokan hari Rima bangun tidur pagi dengan rasa yang aneh tapi lega, serasa baru selesai melewati turbulensi hati dan selamat..dan di pagi itu untuk pertama kalinya Rima merasa kehilangan Arim, rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hati Rima berpikir “Bagaimana bisa aku merasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki”.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar