Jumat, 23 Mei 2025

Segalanya Tentang Tanggungjawab

 

Beragam cerita kehidupan silih berganti, penuh warna, naik turun berfluktuasi layaknya mainan jungkat jungkit semasa taman kana-kanak, atau bahkan ada yang mirip roller coaster yang begitu mendebarkan.

Impian seorang gadis remaja sebut dia Sifa yang sedang mengores pena pada lembaran cerita hidupnya, yaitu memiliki keluarga yang ideal. Suami yang baik bertanggung jawab dengan kemapanan ekonomi, pun dia juga memimpikan diri menjadi istri yang sempurna sekaligus ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Dia bercita-cita menikah di usia 23 tahun dengan selisih dengan pasangan 5 tahun, menurutnya itu adalah usia paling ideal untuk memulai cerita hidupnya menapaki dunia yang sebenarnya. Takdir memberikan jawaban dia harus menikah diusia 24 tahun dengan terpaut satu tahun dengan pasangannya. Sifa telah bekerja di instansi pemerintah sedangkan suami sebut saja namanya Ara masih berstatus sebagai mahasiswa. Berdua meyakini rejeki akan mendatangi orang yang menikah.

Tahun pertama dilewati dengan cukup mulus, masa adaptasi berjalan dengan lembut tanpa perselisihan yang berarti.  Benar adanya… rejeki mendatangi orang yang menikah… bulan kesepuluh anak pertama lahir dan diiringi dengan Ara diterima bekerja pada perusahaan otomotif yang cukup banafide sebagai tenaga marketing. Lengkap sudah kebahagiaan Sifa dan Ara. Memasuki tahun ketiga anak kedua lahir, pada tahun ketujuh anak ketiga lahir, mamasuki tahun keduabelas mendapatkan bonus anak keempat. Sungguh anugerah yang luar biasa.

Euforia keluarga baru dengan ekonomi yang cukup mapan membuat Ara dan Sifa terlena tidak cukup waspada dengan pengelolaan keuangan, alhasil berapapun penghasilan bulan itu selalu pas tanpa sisa, kondisi itu berlangsung terus menerus hingga anak pertama beranjak memasuki bangku SMA, dan baru tersadar karena tak lama lagi akan membutuhkan biaya cukup besar untuk masuk kuliah sedangkan anak pertama kedua dan ketiga berjarak 3 tahun sehingga ketiganya bersamaan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sifa mulai merasa ada yang salah dengan manajemen kasnya, mulailah dia mengevaluasi cashflow-nya, pengeluaran mulai manganut asas prioritas, tidak lagi asal kepingin dibeli ntah diperlukan ataukah tidak. Pengeluaran atas dasar keperluan bukan atas dasar keinginan. Pelan-pelan kondisi keuangan mulai tertata dan pada saatnya 3 anak masuk sekolah bersamaan, semua biaya ter-cover.

Sebentar senang, sebentar sedih… orang bilang itulah rasa kehidupan. Sejenak Sifa merasakan ketenangan, selesai mengantar 3 anak masuk sekolah, ternyata kehidupan memberikan pengalaman rasa yang lain lagi, kali ini Ara mengalami kejadian diluar perkiraan, staf marketing membawa lari uang perusahaan sebagai atasan Ara turut bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Niat baik menyelesaikan masalah itu dengan uang pribadi ternyata berbuah Ara dimutasi ke luar kota. Untuk pertama kalinya menjalani pernikahan jarak jauh dan hanya sepekan sekali bisa pulang bukan hal yang menyenangkan baginya.

Bekerja di kota kecil ternyata sangat berpengaruh pada income, penghasilan menukik tajam disaat anak-anaknya memerlukan dukungan biaya yang cukup besar. Sebagai bentuk tanggungjawab dan dukungan Sifa untuk keluarga, dia melakukan usaha apapun asal jadi duit, mulai jadi dropshiper baju, jualan makanan, jualan minyak kesehatan. Tentu semua ada konsekuensi, kesibukan bertambah, badan lebih capek, pikiran terpecah-pecah. Akan tetapi demi semua tetap berjalan baik, everything will do.

Rupanya keseruan hidup masih terus berlanjut, badai covid-19 menerpa tanpa ampun, meluluhlantakkan hampir semua sudut kehidupan. Dunia otomotif terdampak begitu hebat. Sebagain besar orang tidak siap dengan situasi itu termasuk Ara, income terjun bebas disaat anak-anaknya perlu dana besar untuk tetap bertahan menyelesaikan pendidikannya.

Pengetatan rupanya masih terus berlanjut, pengeluaran sekunder dipangkas habis, benar-benar hanya kebutuhan pokok dan biaya sekolah dan wow… ternyata bisa..dan tidak apa-apa ketika hanya memenuhi kebutuhan pokok saja. Betapa manusia di desain begitu fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan aneka ragam situasi.

Demi mendekatkan tempat kerja dengan rumah maka tawaran mutasi kedua diterima Ara, walau jarak 1.5 jam dari rumah, akan tetapi bisa ditempuh pulang pergi setiap hari. Badai covid-19 telah mereda akan tetapi situasi ekonomi perlu waktu lebih Panjang untuk pulih. Dunia otomotif dunia Ara masih belum menemukan pola barunya, masih tertatih layaknya bayi yang baru berlajar berjalan.

Lesunya pasar otomotif, maka setiap prospek dimanapun berada dikejar, bahkan yang berjarak 5 jam perjalanan PP. Berturut-turut dalam 2 minggu perjalanan luar kota bolak balik demi mengelola prospek, tubuh yang tak lagi muda ternyata meronta juga. Pada suatu pagi  menjelang subuh, Ara merasakan sakit di dada kiri, pundak sampe tangan kiri mati rasa, keringat dingin mengucur deras, perut mual dan melilit.. Ara terkena serangan jantung!!!. Tanpa pikir pajang Sita langsung menyalakan kendaraan dan secepat mungkin bagaimana caranya sampai di rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit dengan sigap tim IGD langsung melakukan tindakan sesuai SOP penanganan serangan jantung, bersyukur tidak sampai terjadi shock, kondisi tetap sadar walau wajah pucat pasi. Dua jam di IGD, selanjutnya dilakukan perawatan di ruang rawat inap, bersyukur cukup dua hari di rumah sakit dan diperbolehkan melanjutkan perawatan di rumah.

Sungguh kombinasi yang komplit bagi dunia marketing ketika pasar sedang lesu dan kondisi kesehatan fisik sedang tidak baik-baik saja, sedangkan kehidupan tak bisa dihentikan pun tidak bisa pula sekedar ditunda. Performa makin menurun dan pada akhirnya keputusan resign pun diambil. Show must go on…..

Maka babak barupun dimulai, Sifa mengambil keputusan untuk menerima tawaran promosi dari kantornya. Dengan konsekuensi berada jauhh dari keluarga dan hanya sebulan sekali bisa berkunjung. Karena perjalanan yang cukup jauh dan lama dan melewati 3 matra darat laut udara. Bukan sifa apabila  mengeluh dengan situasinya. Dia berprinsip “Berani Hidup berani bertanggung jawab, dibalik setiap keputusan ada konsekuensi yang menyertai”. So…. jalani saja,  semua akan selesai pada waktunya dan pada akhirnya semua akan menjadi cerita indah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar