Beragam cerita
kehidupan silih berganti, penuh warna, naik turun berfluktuasi layaknya mainan
jungkat jungkit semasa taman kana-kanak, atau bahkan ada yang mirip roller
coaster yang begitu mendebarkan.
Impian seorang
gadis remaja sebut dia Sifa yang sedang mengores pena pada lembaran cerita
hidupnya, yaitu memiliki keluarga yang ideal. Suami yang baik bertanggung jawab
dengan kemapanan ekonomi, pun dia juga memimpikan diri menjadi istri yang
sempurna sekaligus ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Dia
bercita-cita menikah di usia 23 tahun dengan selisih dengan pasangan 5 tahun,
menurutnya itu adalah usia paling ideal untuk memulai cerita hidupnya menapaki
dunia yang sebenarnya. Takdir memberikan jawaban dia harus menikah diusia 24
tahun dengan terpaut satu tahun dengan pasangannya. Sifa telah bekerja di
instansi pemerintah sedangkan suami sebut saja namanya Ara masih berstatus
sebagai mahasiswa. Berdua meyakini rejeki akan mendatangi orang yang menikah.
Tahun pertama
dilewati dengan cukup mulus, masa adaptasi berjalan dengan lembut tanpa
perselisihan yang berarti. Benar adanya…
rejeki mendatangi orang yang menikah… bulan kesepuluh anak pertama lahir dan
diiringi dengan Ara diterima bekerja pada perusahaan otomotif yang cukup
banafide sebagai tenaga marketing. Lengkap sudah kebahagiaan Sifa dan Ara.
Memasuki tahun ketiga anak kedua lahir, pada tahun ketujuh anak ketiga lahir,
mamasuki tahun keduabelas mendapatkan bonus anak keempat. Sungguh anugerah yang
luar biasa.
Euforia
keluarga baru dengan ekonomi yang cukup mapan membuat Ara dan Sifa terlena tidak
cukup waspada dengan pengelolaan keuangan, alhasil berapapun penghasilan bulan
itu selalu pas tanpa sisa, kondisi itu berlangsung terus menerus hingga anak
pertama beranjak memasuki bangku SMA, dan baru tersadar karena tak lama lagi
akan membutuhkan biaya cukup besar untuk masuk kuliah sedangkan anak pertama
kedua dan ketiga berjarak 3 tahun sehingga ketiganya bersamaan memasuki jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Sifa mulai merasa ada yang salah dengan manajemen
kasnya, mulailah dia mengevaluasi cashflow-nya, pengeluaran mulai
manganut asas prioritas, tidak lagi asal kepingin dibeli ntah diperlukan
ataukah tidak. Pengeluaran atas dasar keperluan bukan atas dasar keinginan. Pelan-pelan
kondisi keuangan mulai tertata dan pada saatnya 3 anak masuk sekolah bersamaan,
semua biaya ter-cover.
Sebentar
senang, sebentar sedih… orang bilang itulah rasa kehidupan. Sejenak Sifa
merasakan ketenangan, selesai mengantar 3 anak masuk sekolah, ternyata
kehidupan memberikan pengalaman rasa yang lain lagi, kali ini Ara mengalami
kejadian diluar perkiraan, staf marketing membawa lari uang perusahaan sebagai
atasan Ara turut bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Niat baik
menyelesaikan masalah itu dengan uang pribadi ternyata berbuah Ara dimutasi ke
luar kota. Untuk pertama kalinya menjalani pernikahan jarak jauh dan hanya
sepekan sekali bisa pulang bukan hal yang menyenangkan baginya.
Bekerja di kota
kecil ternyata sangat berpengaruh pada income, penghasilan menukik tajam
disaat anak-anaknya memerlukan dukungan biaya yang cukup besar. Sebagai bentuk
tanggungjawab dan dukungan Sifa untuk keluarga, dia melakukan usaha apapun asal
jadi duit, mulai jadi dropshiper baju, jualan makanan, jualan minyak kesehatan.
Tentu semua ada konsekuensi, kesibukan bertambah, badan lebih capek, pikiran
terpecah-pecah. Akan tetapi demi semua tetap berjalan baik, everything will
do.
Rupanya
keseruan hidup masih terus berlanjut, badai covid-19 menerpa tanpa ampun,
meluluhlantakkan hampir semua sudut kehidupan. Dunia otomotif terdampak begitu
hebat. Sebagain besar orang tidak siap dengan situasi itu termasuk Ara, income
terjun bebas disaat anak-anaknya perlu dana besar untuk tetap bertahan
menyelesaikan pendidikannya.
Pengetatan
rupanya masih terus berlanjut, pengeluaran sekunder dipangkas habis,
benar-benar hanya kebutuhan pokok dan biaya sekolah dan wow… ternyata bisa..dan
tidak apa-apa ketika hanya memenuhi kebutuhan pokok saja. Betapa manusia di
desain begitu fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan aneka ragam situasi.
Demi
mendekatkan tempat kerja dengan rumah maka tawaran mutasi kedua diterima Ara,
walau jarak 1.5 jam dari rumah, akan tetapi bisa ditempuh pulang pergi setiap
hari. Badai covid-19 telah mereda akan tetapi situasi ekonomi perlu waktu lebih
Panjang untuk pulih. Dunia otomotif dunia Ara masih belum menemukan pola
barunya, masih tertatih layaknya bayi yang baru berlajar berjalan.
Lesunya pasar
otomotif, maka setiap prospek dimanapun berada dikejar, bahkan yang berjarak 5
jam perjalanan PP. Berturut-turut dalam 2 minggu perjalanan luar kota bolak
balik demi mengelola prospek, tubuh yang tak lagi muda ternyata meronta juga. Pada
suatu pagi menjelang subuh, Ara merasakan
sakit di dada kiri, pundak sampe tangan kiri mati rasa, keringat dingin
mengucur deras, perut mual dan melilit.. Ara terkena serangan jantung!!!. Tanpa
pikir pajang Sita langsung menyalakan kendaraan dan secepat mungkin bagaimana
caranya sampai di rumah sakit.
Sesampai di
rumah sakit dengan sigap tim IGD langsung melakukan tindakan sesuai SOP
penanganan serangan jantung, bersyukur tidak sampai terjadi shock, kondisi tetap
sadar walau wajah pucat pasi. Dua jam di IGD, selanjutnya dilakukan perawatan
di ruang rawat inap, bersyukur cukup dua hari di rumah sakit dan diperbolehkan
melanjutkan perawatan di rumah.
Sungguh
kombinasi yang komplit bagi dunia marketing ketika pasar sedang lesu dan
kondisi kesehatan fisik sedang tidak baik-baik saja, sedangkan kehidupan tak
bisa dihentikan pun tidak bisa pula sekedar ditunda. Performa makin menurun dan
pada akhirnya keputusan resign pun diambil. Show must go on…..
Maka babak
barupun dimulai, Sifa mengambil keputusan untuk menerima tawaran promosi dari kantornya.
Dengan konsekuensi berada jauhh dari keluarga dan hanya sebulan sekali bisa
berkunjung. Karena perjalanan yang cukup jauh dan lama dan melewati 3 matra
darat laut udara. Bukan sifa apabila mengeluh dengan situasinya. Dia berprinsip “Berani
Hidup berani bertanggung jawab, dibalik setiap keputusan ada konsekuensi yang
menyertai”. So…. jalani saja, semua
akan selesai pada waktunya dan pada akhirnya semua akan menjadi cerita indah
kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar