Sabtu, 26 Juli 2025

Puisi Yang Tak Puitis

Terimakasih  atas hari yang penuh cinta
Tubuh sehat yang penuh tenaga
Kata-kata yang terdengar penuh makna
Berkah darimu alam semesta

maturnuwun..!!!!

Senja  bergeser menyambut malam
Suara burung berganti dengung sayap nyamuk
tubuh mulai merunduk
tiba waktunya untuk meringkuk

Kalau hanya dipikir maka hidup akan getir
Andai cuma dipandang maka bisa meradang
kalau bersyukur maka akan akur

Setuju to..!!

Kotabaru 26th, July 2025 21.26 WITA


Hukum paradoks tak terelakkan
Menikmati terik sinar matahari menyehatkan dan membahagiakan
walau membuat kulit menjadi legam
dan aku memilih sehat dan bahagia 
karena dua banding 1 kumaknai sebagai menang


Siang hari menghadiri undangan
undangan ulang tahun dan khitanan
Masih gagap budaya di Kalimantan
Menghadiri undangan orang yang tidak dikenal

Kenapa jadi pantun ya..ya sudahlah..


Kembang telang indah nan ungu
Dia mekar sebentar lalu layu
Begitu juga hidupku..
hari ini indah, mungkin besok akan sendu

itu pasti.... karena hidup tentang menerima dua rasa   


Hujan deras ditengah terik matahari
tetesan air menyilaukan terpendar cahaya surya
aroma tanah basah menyapa ramah masuk ke hidung
akan tetapi basahnya hanya sesaat, hilang lenyap dipeluk bumi 

itu kejadian siang tadi....hehehe..


temaram surya menuju peraduan
meninggalkan semburat warna jingga
sayup-sayup terdengar panggilanNYa
tiba saatnya kita men-jeda

maghriban lurr....


Hitam pekat tapi bukan kopi
menutupi diri tanpa hilang jati diri
tempat nyaman untuk bersembunyi
dari rasa yang terpatri...

apa maksude...
maksude wis bengi wayahe turu

22.00 Kotabaru July 27th 2025


Gemericik air kran dipagi hari
dingin menyegarkan muka.
kala basuhan  pertama terbukanya mata
menyambut hari yang sarat makna

deru asap motor mengepul di udara
melaju santai di jalan raya
tersenyum diri melihatnya dan berdoa
semoga Tuhan ijinkan berkahNya menyapa


kembali membuka tulisan lama
terkenang lagi akan cerita
cerita usang menjadi canda 
mebiarkan diri tetap gembira

nyambung ga sih...wis sakarepku 

Kau datang menari dimata
dengan senyum khasmu penuh pesona
rasa diri hampir tergoda
padahal tak lagi kau bertahta

#kelinganm

Sore menjelang pulang
rasa lapang datang mengulang
ada rindu yang menyeberang
pada tuan yang memanggil sayang

#sapa


ufuk barat merona jingga
burung seriti terbang mengembara
bagaimana ku mengolah rasa
yang sedang teraduk setengah luka

tuntas nugas hari ini
mengabdi pada negeri sampai diujung bumi
pada akhirnya akan mengisi hati
saat semua telah purna bakti

Pagi datang mengulang 
Ada cerita  yang sedang menantang
Jalan berliku serta berlubang 
Penempa diri agar tak mudah tumbang

#dakfisiktaha2 kotabaru 21 oktober 2025

Sore menjelang malam
Kututup hari dengan senyuman 
Tulus murni bagai pualam 
Guna meredam kegalauan

Sebelum mata terpejam
hujamkan rasa syukur terdalam
sejenak tengok ke belakang 
ternyata
semua yang datang membawa pesan Tuhan

#ngantuk kotabaru 21 oktober 25

Sepi digelap malam
Menekuri diri yang kadang tenggelam 
Dalam diam penuh perasaan 
Tersadar semua harus dikembalikan


terik matahari menyilaukan nurani
panasnya terasa sampe ke relung hati
bukan karena tak lagi di hati
karena memang harus berhenti


Malam melarut
Dalam dekap pekat sang gulita
Diam seribu bahasa 
Namun rasa tetap berbicara 

Ketika lututmu mulai bersuara
dia berkata
dirimu menuju renta
hiduplah dengan bahagia
terima semua jalan cerita
tak guna meronta


Kusambut pagi dengan riang
Walau langit penuh mendung melayang 
Bersiap upacara sayang 
Selamat Hari OEANG!!!

pagi hari di kotabaru 30 Oktober 2025


Yin Yang selalu bertautan
merangkai cerita tentang kehidupan
mengalir mengalun ritme dan ketukan
sampai akhirnya tuntas pembelajaran

Hujan mengguyur menjelang petang 
Percikannya dingin menyejukkan 
Gemuruh lembut yang menenangkan 
Jiwa -jiwa yang sedang melayang.

Senyum manis menyambut pagi
sinar matahari hangat menyapa bumi
apa kabarmu wahai diri sejati 
sudahkah kamu memberi arti

Tabur tuai hukum semesta
kau tanam baik maka menuai baik
sebarkan saja  terus ke semesta
tanpa pernah mengaharap dia kembali

sungguh ketulusan selalu berbalas ketulusan, 
walau mungkin balasan itu tidaklah instan
ijinkan berpikir  menjeda menjarak dan mengendapkan, 
hingga  tulusmu menyentuh perasaan

Engkau memberi begitu banyak
bagaimana mungkin aku masih meminta
maka
ijinkanlah aku belajar memberi 
hingga lupa cara meminta

Renungan Kotabaru 17 Desember 2025

Malam melarut dalam diam
Menutup terang berganti kelam
Sayup terdengar buaian alam
Tiba saatnya ku ucapkan selamat malam 🌃

Kotabaru, 21 Desember 2025 22.03 Wita

naik turun emosi tak terprediksi
dipantik situasi dan kondisi
tapi mari kita cermati
bukankah diri ini sebagai pengendali


sinau lagi Kotabaru 23 Desember 2025

Waktu bergulir bagai roda
Mengantar diri menuju senja 
Mari
Sejenak men-jarak dan menjeda
Berharap nafsu dan amarah terus mereda

Waktu bergerak bagai roda
semua sebagai pergantian waktu semata
mari 
menjarak dan menjeda
berharap diri mendewasa tak sekedar menua

Kotabaru 31 Desember 2025

Hujan deras di gelapnya subuh
Rintiknya terdengar begitu riuh
Di dermaga nelayan membuang sauh
Tiba saatnya kapal berlabuh

Kotabaru Dini hari 3 Januari 2026

luka perih buatan sendiri
merajut asa berlebih tak tahu diri
atas anugrah sang Ilahi 
karena tak pandai menyukuri

luka dalam kian menenggelam
pada lubuk yang menghujam
tak pantas diri terus menggenggam
pada apa yang harus dilepaskan

#lettinggo



Jumat, 04 Juli 2025

Dua Jimat Keramat

 


Aku memiliki 2 ibu, ibu kandung dan ibu mertua, dua-duanya Wanita hebat dimataku, Ibuku memiliki 5 anak 4 perempuan 1 laki-laki, sedangkan ibu mertuaku memiliki 5 anak juga 3 perempuan 2 laki-laki. Beliau berdua karakternya sangat berlawanan, ibuku sangat pendiam ataua dalam bahasa umum introvert sedangkan ibu mertua sebaliknya sangat terbuka atau extrovert. Perawakan ibu tinggi besar dan ibu mertua dengan perawakan pendek dengan otot yang kuat nan kokoh.

Ibuku terlahir dimasa revolusi, sekitar tahun 1947 atau 1948 dimasa itu sepertinya pendokumentasian belumlah menjadi kebutuhan yang mendesak, kelahiran seseorang seringkali hanya diingat-ingat dengan peristiwa yang terjadi missal bersamaan dengan banjir bandang, atau bebarengan dengan gunung Meletus, pun dengan penamaan terkadang juga untuk menandai peristiwa yang terjadi.

Budaya patriarki amat kental di era itu, dimana peran perempuan tidak jauh-jauh dari dapur, sumur dan kasur. Tidak banyak peran yang bisa diambil perempuan kala itu. Tunduk patuh para lelaki sebagai suaminya apapun kondisinya dan bagaimanapun perangainya.  Beberapa kali aku menjumpai beliau menangis dalam diamnya, kala itu diri ini belum paham apa yang sebenarnya sedang dirasakan olehnya. Kini setelah merasakan berumahtangga ternyata seberat itu yang harus dijalani. Sehingga dengan budaya patriarki tentu jauh lebih berat lagi. Dilarang protes bahkan tak pernah secara ekplisit mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya, pilihannya adalah nrimo dan pasrah menjalani kehidupan.

Ada saat dimana ibuku nampak begitu bahagia dalam diamnya, tubuhnya begitu segar di tahun 1996 ketka anak pertamanya pulang Kembali ke kampung setelah lama merantau, anak kedua sudah memulai membangun rumah tangganya dan anak ketiga diterima kerja, sedangkan anak keempat dan kelima masih sekolah. Dan beliau tetap pendiam dalam bahagianya tidak ada ekpresi yang berlebihanm wajahnya cerah senyumnya sumringah, itu saja yang nampak.

Fluktuasi kehidupan tak dapat dihindari, rupanya ibuku diuji ketahanan mental dalam diamnya dengan kondisi rumah tangga salah satu anaknya yang gonjang ganjing, begitu menguras emosi dan energinya, yang akhirnya nampaklah guratan kesedihan di raut wajahnya, senyum sumringahnya memudar, tubuhnyapun ikut merenta, dalam kondisi demikian, belaiu sangat luar biasanya beliau tetap tabah mampu melewati badai tersebut, berdiri kokoh dalam diamnya, tanpa curhat tanpa airmata, hanya sujud di malam hari sebagai tempat singgah yang menenangkan qalbunya.

Diujung masa hidupnya beliau terkena serangan stroke pada tahun 2019 tepatnya ditanggal 20 Oktober, pengobatan dilakukan terapi dilakukan apadaya faktor usia dan semangat hidup yang tak lagi menyala, membuat kondisi beliau terus menurun, tepat di hari Jumat 6 Agustus 2021 beliau kembali pulang kepada Pemilik sejatinya Allah Swt. In memoriam Ibuku Terima kasih teladan sabarnya.

Sungguh kepribadian yang sangat bertolak belakang, ibu mertuaku orang yang super extrovert, lugas, tegaas tanpa basa-basi. Omongannya kasar tapi memiliki hati yang sangat tulus, helpfull, sangat dermawan kepada siapapun, ga peduli keluarga ataupun orang lain, orang yang telah dikenal lama maupun yang baru dikenal. Beliau tidak memiliki pikiran jelek pada orang lain dan sangat pemaaf.

Ketika Bulan Ramadhan tiba beliau begitu antusias menyambutnya. Beberapa hari menjelang beliau akan melakukan perjalanan menuju cucu terjauh dan terbanyak. Kegemaran memasaknya sangat dinantikan cucunya, rendang, ayam goreng, sop iga, pindang tulang adalah menu andalan yang sangat digemari cucunya. Sop buah menjadi andalan minuman untuk buka puasa. Beliau begitu bahagia tatkala semua masakan ludes dalam sekejap, makin bersemangatlah beliau memasak.

Dua puluh hari Ramadhan berlalu, tibalah saat sepuluh hari terakhir. Itikaf di masjid merupakan salah satu moment yang membahagiakan beliau, selain memperbanyak ibadah, ada satu malam dimana beliau mendapatkan jatah masak bagi seluruh jamaah di masjid untuk sahur bersama, sop iga  menu andalan beliau yang pastinya disukai semua jamaah.

Setiap kelahiran cucunya beliau selalu mengusahakan hadir, dari 13 cucu beliau hanya 2 orang cucu yang tidak mendapatkan sentuhan beliau pasca kelahiran. Bahkan pernah suatu ketika beliau menghadiri kelahiran 3 cucunya yang yang hanya berselang beberapa hari dengan jarak yang berjauhan Surabaya, Jambi, Lampung. Itu dilakukan karena cinta dan sayangnya kepada anak cucu.

Suatu ketika menjelang anak keduaku lahir beliau sampai jam 2 siang setelah menempuh perjalanan Lampung Surabaya dengan naik bis. Karena tanda-tanda kelahiran makin jelas, tanpa istirahat kami ke rumah sakit dan 4 jam kemudian cucunya lahir. Malam-malam menantunya ini kalaparan pasca melahirakn dan beliau berjalan sendirian di Lorong rumah sakit yang sepi , mencari makanan apa saja agar menantunya bisa makan.

Pengalaman mendebarkan bersama ibu mertua  terjadi lagi saat aku melahirkan anak ke-3, terjadi pendarahan hebat 2 jam pasca melahirkan. Terasa ingin kencing dan bidan menyuruhku turun dari bed untuk kecing di kamar mandi. Bersamaan dengan kencing keluarlah darah segar seperti kran air. Sayup-sayup terdengar kepanikan bidan perawat dan ibu mertua ternyata aku pingsan karena terlalu banyak darah keluar. Segera badanku diangkat kembali ke bed dan dilakukan tindakan sesuai sop. Alhamdulillah kecekatan dan kesigapan ibu mertua menjadi kepanjangan tangan Allah menyelamatkanku.

Ketika waktunya sudah tiba ternyata seribu jalan menuju kepulangan. Virus Covid -19 yang sempat singgah di tubuh ibu mertua rupanya menajadi awal jalan kepualangan beliau, pasca Covid-19 tubuh beliau mulai menurun, tak lagi gesit seperti dulu, jalanpun mulai oleng sering terjatuh tanpa sebab dan mengakibatkan beberapa retakan di tulang belakang. Pengobatan dan terapi terus dilakukan akan tetapi sepertinya semangat beliau untuk sembuh telah terkikis oleh kondisi fisik yang terus melemah. Pada akhirnya beliau menyerah pada takdir , tepat malam takbiran 10 Dzulhijjah 1446 atau Jumat, 6 Juni 2025 beliau berpulang. In Memoriam Ibu mertua terima kasih teladan tulus dan baiknya hati. Dua jimat keramatku berpulang di Hari Jumat.