Jumat, 23 Mei 2025

Selayang Pandang Dana Desa Kabupaten Kotabaru

Kabupaten Kotabaru adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan dengan pusat kota berada di Pulau Laut yang terpisah dari Pulau Kalimantan. Wilayah Kabupaten kotabaru meliputi gususan pulau kecil dan besar menurut data statistik jumlah pulau di kabupaten Kotabaru sebanyak 137 pulau, terdiri dari 22 kecamatan, 4 kelurahan, dan 198 desa.

Tahun anggaran 2025 Kabupaten Kotabaru mendapatkan Alokasi dana desa sebesar  Rp167.018.640.000,- yang dirinci untuk 198 desa. Sesuai ketentuan, penyaluran Dana Desa yang berasal dari APBN disalurkan dalam 2 tahap, yaitu tahap I paling lambat tanggal 15 Juni dan tahap II paling lambat mengikuti ketentuan langkah-langkah akhir tahun 2025.

Sampai dengan Bulan April 2025 Kabupaten Kotabaru telah menyalurkan dana desa sebanyak 109 Desa dengan nilai nominal sebesar Rp50.958.570.240,- atau 30,51% dari pagu Rp167.018.640.000,-. Penyaluran dimulai bulan februari  2025 untuk 14 desa sebesar Rp5.876.005.340,- bulan Maret 2025 sebanyak 42 desa nonimal sebesar Rp17.819.795.900,-, bulan April 2025 disalurkan 53 desa dengan nilai nominal Rp22.268.587.200,- .

Arah kebijakan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 bertujuan mendorong peningkatan kemandirian desa dan kualitas tata kelola Dana Desa melalui:

1.       penyaluran Dana Desa berdasarkan fokus penggunaan yang ditetapkan,

2.       penyaluran Dana Desa secara langsung dari RKUN ke RKD,

3.       pemberian reward berupa alokasi kinerja dan insentif desa,

4.      pemberian reward penyaluran Dana Desa lebih besar pada tahap I kepada desa berstatus Mandiri, dan

5.    penerapan sanksi terhadap desa yang menyalahgunakan keuangan desa dan tidak mampu menyerap Dana Desa secara optimal.

Selain itu juga bertujuan untuk mengarahkan fokus penggunaan Dana Desa melalui:

1.       penanganan kemiskinan ekstrem melalui BLT Desa paling tinggi 15%,

2.      penguatan desa untuk aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,

3.       promosi dan penyediaan layanan dasar kesehatan desa termasuk stunting,

4.       dukungan program ketahanan pangan,

5.       pengembangan potensi dan keunggulan desa,

6.       percepatan implementasi desa digital,

7.  pembangunan berbasis padat karya tunai dan penggunaan bahan baku lokal,

8.       operasional pemerintah desa paling tinggi 3%, dan/atau

9.       program sektor prioritas lainnya di desa.

Selanjutnya Pemerintah Kabupaten Kotabaru, bisa terus mengakselerasi seluruh desa segera merealisasi penyaluran Dana Desa Tahap I dengan harapan berbagai tujuan pengalokasian tersebut dapat segera dilaksanakan dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.


Segalanya Tentang Tanggungjawab

 

Beragam cerita kehidupan silih berganti, penuh warna, naik turun berfluktuasi layaknya mainan jungkat jungkit semasa taman kana-kanak, atau bahkan ada yang mirip roller coaster yang begitu mendebarkan.

Impian seorang gadis remaja sebut dia Sifa yang sedang mengores pena pada lembaran cerita hidupnya, yaitu memiliki keluarga yang ideal. Suami yang baik bertanggung jawab dengan kemapanan ekonomi, pun dia juga memimpikan diri menjadi istri yang sempurna sekaligus ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Dia bercita-cita menikah di usia 23 tahun dengan selisih dengan pasangan 5 tahun, menurutnya itu adalah usia paling ideal untuk memulai cerita hidupnya menapaki dunia yang sebenarnya. Takdir memberikan jawaban dia harus menikah diusia 24 tahun dengan terpaut satu tahun dengan pasangannya. Sifa telah bekerja di instansi pemerintah sedangkan suami sebut saja namanya Ara masih berstatus sebagai mahasiswa. Berdua meyakini rejeki akan mendatangi orang yang menikah.

Tahun pertama dilewati dengan cukup mulus, masa adaptasi berjalan dengan lembut tanpa perselisihan yang berarti.  Benar adanya… rejeki mendatangi orang yang menikah… bulan kesepuluh anak pertama lahir dan diiringi dengan Ara diterima bekerja pada perusahaan otomotif yang cukup banafide sebagai tenaga marketing. Lengkap sudah kebahagiaan Sifa dan Ara. Memasuki tahun ketiga anak kedua lahir, pada tahun ketujuh anak ketiga lahir, mamasuki tahun keduabelas mendapatkan bonus anak keempat. Sungguh anugerah yang luar biasa.

Euforia keluarga baru dengan ekonomi yang cukup mapan membuat Ara dan Sifa terlena tidak cukup waspada dengan pengelolaan keuangan, alhasil berapapun penghasilan bulan itu selalu pas tanpa sisa, kondisi itu berlangsung terus menerus hingga anak pertama beranjak memasuki bangku SMA, dan baru tersadar karena tak lama lagi akan membutuhkan biaya cukup besar untuk masuk kuliah sedangkan anak pertama kedua dan ketiga berjarak 3 tahun sehingga ketiganya bersamaan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sifa mulai merasa ada yang salah dengan manajemen kasnya, mulailah dia mengevaluasi cashflow-nya, pengeluaran mulai manganut asas prioritas, tidak lagi asal kepingin dibeli ntah diperlukan ataukah tidak. Pengeluaran atas dasar keperluan bukan atas dasar keinginan. Pelan-pelan kondisi keuangan mulai tertata dan pada saatnya 3 anak masuk sekolah bersamaan, semua biaya ter-cover.

Sebentar senang, sebentar sedih… orang bilang itulah rasa kehidupan. Sejenak Sifa merasakan ketenangan, selesai mengantar 3 anak masuk sekolah, ternyata kehidupan memberikan pengalaman rasa yang lain lagi, kali ini Ara mengalami kejadian diluar perkiraan, staf marketing membawa lari uang perusahaan sebagai atasan Ara turut bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Niat baik menyelesaikan masalah itu dengan uang pribadi ternyata berbuah Ara dimutasi ke luar kota. Untuk pertama kalinya menjalani pernikahan jarak jauh dan hanya sepekan sekali bisa pulang bukan hal yang menyenangkan baginya.

Bekerja di kota kecil ternyata sangat berpengaruh pada income, penghasilan menukik tajam disaat anak-anaknya memerlukan dukungan biaya yang cukup besar. Sebagai bentuk tanggungjawab dan dukungan Sifa untuk keluarga, dia melakukan usaha apapun asal jadi duit, mulai jadi dropshiper baju, jualan makanan, jualan minyak kesehatan. Tentu semua ada konsekuensi, kesibukan bertambah, badan lebih capek, pikiran terpecah-pecah. Akan tetapi demi semua tetap berjalan baik, everything will do.

Rupanya keseruan hidup masih terus berlanjut, badai covid-19 menerpa tanpa ampun, meluluhlantakkan hampir semua sudut kehidupan. Dunia otomotif terdampak begitu hebat. Sebagain besar orang tidak siap dengan situasi itu termasuk Ara, income terjun bebas disaat anak-anaknya perlu dana besar untuk tetap bertahan menyelesaikan pendidikannya.

Pengetatan rupanya masih terus berlanjut, pengeluaran sekunder dipangkas habis, benar-benar hanya kebutuhan pokok dan biaya sekolah dan wow… ternyata bisa..dan tidak apa-apa ketika hanya memenuhi kebutuhan pokok saja. Betapa manusia di desain begitu fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan aneka ragam situasi.

Demi mendekatkan tempat kerja dengan rumah maka tawaran mutasi kedua diterima Ara, walau jarak 1.5 jam dari rumah, akan tetapi bisa ditempuh pulang pergi setiap hari. Badai covid-19 telah mereda akan tetapi situasi ekonomi perlu waktu lebih Panjang untuk pulih. Dunia otomotif dunia Ara masih belum menemukan pola barunya, masih tertatih layaknya bayi yang baru berlajar berjalan.

Lesunya pasar otomotif, maka setiap prospek dimanapun berada dikejar, bahkan yang berjarak 5 jam perjalanan PP. Berturut-turut dalam 2 minggu perjalanan luar kota bolak balik demi mengelola prospek, tubuh yang tak lagi muda ternyata meronta juga. Pada suatu pagi  menjelang subuh, Ara merasakan sakit di dada kiri, pundak sampe tangan kiri mati rasa, keringat dingin mengucur deras, perut mual dan melilit.. Ara terkena serangan jantung!!!. Tanpa pikir pajang Sita langsung menyalakan kendaraan dan secepat mungkin bagaimana caranya sampai di rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit dengan sigap tim IGD langsung melakukan tindakan sesuai SOP penanganan serangan jantung, bersyukur tidak sampai terjadi shock, kondisi tetap sadar walau wajah pucat pasi. Dua jam di IGD, selanjutnya dilakukan perawatan di ruang rawat inap, bersyukur cukup dua hari di rumah sakit dan diperbolehkan melanjutkan perawatan di rumah.

Sungguh kombinasi yang komplit bagi dunia marketing ketika pasar sedang lesu dan kondisi kesehatan fisik sedang tidak baik-baik saja, sedangkan kehidupan tak bisa dihentikan pun tidak bisa pula sekedar ditunda. Performa makin menurun dan pada akhirnya keputusan resign pun diambil. Show must go on…..

Maka babak barupun dimulai, Sifa mengambil keputusan untuk menerima tawaran promosi dari kantornya. Dengan konsekuensi berada jauhh dari keluarga dan hanya sebulan sekali bisa berkunjung. Karena perjalanan yang cukup jauh dan lama dan melewati 3 matra darat laut udara. Bukan sifa apabila  mengeluh dengan situasinya. Dia berprinsip “Berani Hidup berani bertanggung jawab, dibalik setiap keputusan ada konsekuensi yang menyertai”. So…. jalani saja,  semua akan selesai pada waktunya dan pada akhirnya semua akan menjadi cerita indah kehidupan.

Tak Pernah Benar-Benar Memiliki

 

Rima sedang menyelesaikan tugasnya hari itu yang cukup padat, kebanyakan orang mengejar deadline diakhir bulan akan tetapi Rima justru sibuk di awal bulan dan landai di akhir bulan. Seperti biasa sambil bekerja sesekali diselingi senda gurau dengan rekan seruangan, sekedar untuk menyegarkan suasana. Terkadang diselingi menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Sepotong pisang goreng dibiarkan tergeletak sudut meja kerja yang belum sempat dimakannya.

Dimeja sebelah Arim tak kalah sibuk dengan tugas hariannya dia pekerja yang  efektif sehingga setiap perkajaan diselesaiakan dengan lebih cepat. Tatkala satu tugas telah tuntas sesekali dia bercanda dengan teman disekitarnya. Arim duduk persis disebelah Rima. Berdua sering menyelingi kegiatan harian s, ambil ngobriol random tanpa tema, terkadang keseruan orbolan  membuat  orang satu ruangan menoleh kearah mereka, sebagian ikut tersenyum senang karena suasana kerja menjadi hangat, obrolan candaan yang semata-mata sebagai penyegar suasana untuk mengurangi kejenuhan akan tugas-tugas rutin.  

Rima dan Arim  berasal dari kampus yang sama, terpaut beberapa angkatan, jiwa korsa menyatukan mereka sehingga sejak awal perjumpaan tak ada kecanggungan bahkan serasa telah  kenal cukup lama. awal pertemuan diisi dengan saling mengenalkan diri  nama panngilan apa dan mau dipanggil apa dan selanjutnya, pertemanan mereka mengalir begitu alamiah. 

Kesamaan tugas sehari-hari memungkinkan mereka saling mengisi, saling bantu, saat Rima lebih sibuk maka Arim membantunya demikian juga sebaliknya, berdua menjadi tim yang kompak. sehingga semua pekerjaan selesai sesuai jadwal dan selesai di jam kerja.

Semakin hari keduanya semakin nyaman dalam kebersamaan di lingkungan kerja, memahami karakter masing-masing saling bercerita mulai dari hal-hal ringan sampe curhatan masalah keluarga bahkan masalah pribadi, mengetahui detil apa yang disuka dan tidak disuka diantara keduanya. Mulai makanan kesukaan, tema obrolan yang disukai dan tidak disukai. Keduanya saling percaya menitipkan cerita masing-masing atau hanya sekedar untuk berbagi cerita that's all. Persahabatan keduanya layaknya saudara. Usia mereka terpaut 5 tahun dalam benak Rima, Arim sebagai kakak laki-laki, yang tidak dimilikinya di keluarga, dia begitu happy memiliki kakak laki-laki (walau bukan sebenarnya), dia terkadang manja terkadang nyebelin bahkan ngeselin. Arim tak segan menegur bahkan memarahi Rima ketika dia melakukan kesalahan ntah pekerjaan atau kurang pas dalam memilih warna/ model pakaian. 

Benar kata orang tidak ada persahabatan yang benar-benar tulus antara 2 makhluk hidup yang disebut manusia dengan nama laki-laki dan perempuan, salah satu baper atau kedua-duanya, mulai timbul rasa nyaman, mulai ada rasa kosong saat yang lain tidak menampakkan diri atau bahkan keduanya mulai ada  rasa ketergantungan emosi alias candu. Sungguh semua terjadi begitu saja tanpa rekayasa tanpa perencanaan. Walau demikian keduanya sama-sama enggan berterus terang, pura-pura  seolah-olah tidak ada apa-apa. lebih tepatnya tidak pernah barani mengakui. Karena berdua sadar sebesar sekuat apapun rasa.... di depan mata membentang  tembok beton raksasa yang susah ditembus apalagi dirobohkan. Server peribadatan yang berbeda membuat mereka berdua berpikir seribu kali untuk memulai sebuah perjalanan bersama. Sampai suatu hari mereka harus berpisah karena mutasi.

Perjalanan hidup terkadang memang tak bisa ditebak, semesta mengirimkan jodoh terbaik untuk Rima dan Arim, jodoh yang direstui keluarga.

Sepuluh tahun berlalu tak disangka Rima dan Arim kembali dipertemukan melalui teknologi informasi. Obrolan terjalin kembali sebagaimana dulu mereka masih sekantor. Dalam sehari mereka menyempatkan berbincang melalui aplikasi gtalk, obrolan receh sekedar mengenang cerita lama, nyaman sama seperti dulu. Sampai suatu hari pengakuan Arim begitu mengejutkan Rima, “sebenarnya sejak dulu aku sayang kamu” , begitu chat Arim, bak petir menyambar di siang bolong. Badan Rima gemetar….dunianya serasa runtuh, air mata tak terbendung. Segala rasa campur aduk jadi satu, terkejut, marah, kecewa, tak pernah mebayangkan Arim akan berterus terang, walau demikaiann ada sedikit kelegaan hati Rima bahwa selama ini perasannya tidak salah. 

Tapi apalah arti pengakuan hari ini… buat apa, saat semua telah memilih jalan sendiri, semua sudah terlambat. Benar-benar pengakuan yang tidak lagi berguna. Sita menumpahkan kemarahannya melalui telpon. 

Please.. kamu jangan marah please, tak kalah gemetar suara Ika diseberang telpon. Aku sudah tidak lagi kuat menyimpan sendiri, kamu harus tahu yang sebenarnya, itu saja!!.. Keduanya saling terdiam, sambal sesekali terdengar helaan nafas dalam. Tak terasa air mata Rima mengalir perlahan dia terduduk lunglai, pelan Rima mulai mengatur nafas menenangkan diri. 

Ketika telah sama-sama tenang.. Rima memulai lagi pembicaraan, “terus maumu apa sekarang? Apakah itu mengubah keadaan?” Tanya Rima, “Tidak juga, supaya kamu tahu saja isi hatiku”, jawab Arim, “konyol, gila kamu”, Rima menimpali. “ Ya gimana lagi, aku juga tidak tahu harus bagaimana”, gumam Ika.

Dua minggu sejak peristiwa itu, Arim mendapatkan penugasan di kota dimana Rima tinggal, kota tempat pertama kali mereka bertemu. Keduanya janjian bertemu pada saat makan siang, pertemuan di kantor itu mengingatkan mereka akan situasi sepuluh tahun lalu, akan tetapi suasana menjadi berbeda, canggung, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

“Bagaimana kabarmu”, Arim memecah kekakuan. “Kabarku baik, kamu bagaimana?” Rima balik bertanya.“Aku baik juga”, jawab Arim.

“Syukurlah, aku ikut senang”, gumam Rima. 

“Iya terimakasih”, balas Ika dengan suara nyaris tak terdengar.

“Maaf ya untuk keterusteranganku, kalau itu menganggumu”, Arim lagi-lagi berusaha mencairkan suasana.

“Iya gapapa sudah terjadi, setidaknya aku jadi tahu yang sebenarnya walau itu sedikit membuatku terguncang, bagaimanapun hari ini kita sudah memiliki jalan masing-masing dan ada hati yang harus dijaga tidak boleh disakiti apapun alasannya, masa lalu telah lewat, sudah menjadi sejarah bagi perjalananku dan perjalananmu, ya...apapun..aku tetap terimakasih atas kejujuranmu”, ucap Rima sambil membiarkan matanya menerawang jauh.

“ owh iya...tugasku sudah selesai maaf besok aku harus balik”, pamit Arim sambl mengulurkan tangannya, "iya gpp..tidak perlu minta maaf tidak ada yang perlu dimaafkan, semua terjadi tentu ada pesan semesta yang ingin disampaikan.. ntah apa aku belum menemukannya, mungkin dengan berjalannya waktu kita akan sama-sama paham", ucap Rima sambil menggenggam tangan Arim.

“Dan silakan pulang dan  memang kamu harus pulang, disini bukan rumahmu, selamat jalan, semoga perjalananmu lancar selamat sampai tujuan”. Mereka beradu pandang, senyum kecil mereka sematkan diakhir pertemuan.

Keesokan hari Rima bangun tidur pagi dengan rasa yang aneh tapi lega, serasa baru selesai melewati turbulensi hati dan selamat..dan di pagi itu untuk pertama kalinya Rima merasa kehilangan Arim, rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hati Rima berpikir “Bagaimana bisa aku merasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki”.