Empat program utama pemerintahan Presiden Parbowo adalah swasembada pangan, makan bergiszi gratis, ketahanan energi dan hilirisaasi. Dalam beberapa kesempatan yang berbeda presiden menyampaikan Indonesia harus mencapai swasembada pangan dalam waktu 4 tahun, pada kesempatan yang lain swasembada akan mampu dicapai dalam rentang waktu 3 tahun bahkan harus sudah mulai bisa dicapai ditahun pertama pemeritahannya. Hal tersebut menandakan betapa program swasembada pangan harus digarap dengan sangat serius.
Keseriusan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan
adalah dengan dibentuknya Brigade pangan. Brigade pangan adalah program dari
Kementeian Pertanian yang bertujuan meningkatkan produktifitas pertanian
melalui penerapan teknologi modern dengan cara mengajak masyarakat khususnya
generasi muda generasi milenial bahkan Gen Z agar mau terlibat pada sector
pertanian, sehingga terjadi regerasi petani dan penumbuhan wirausaha muda
pertanian.
Selain melibatkan generasi muda disektor pertanian tujuan lain pembentukan Brigade pangan,
- terlaksananya penambahan luas tanam dan panen melalui peningkatan Indeks penanaman sehingga produksi meningkat.
- Terbukanya lapangan pekerjaan bagi generasi muda dengan menjadi anggota brigade pangan
- Meningkatkan penumbuhan ekonomi ditingkat desa
- Terbentuknya kemandirian petani dalam penyediaan sarana prasarana pertanian
Brigade pangan beranggotakan 15 orang dengan luasan lahan
olah 200 ha, meliputi optimalisasi lahan (oplah) maupun cetak sawah rakyat
(CSR). Proses pembentukan Brigade Pangan dimulai dari
- petani
mengajukan pembentukan brigade pangan ke BPP melalui penyuluh pertanian setempat
- melakukan
musyawarah dalam proses pembentukan brigade pangan menyiapkan dan menyerahkan
berkas persyaratan administrasi.
- Pengusulan
alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diperlukan secara berjenjang ke
Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian setempat
-
Penginputan
Brigade Pangan pada aplikasi SIMLUHTAN
Selanjutnya brigade pangan mendapatkan fasilitas sarana
produksi pertanian meliputi benih, pupuk, pestisida, herbisida, dolomit,
tractor, rotavator, drone seeder, mesin penanam benih, pompa air dan lain sebagainya.
Dalam bekerja brigade pangan menganut pola kemitraan yang
saling menguntungkan yang dilaksanakna dalam kurun waktu 5 tahun dengan pemilik lahan, dan sharing profit 70% untuk brigade pangan dan
30% untuk pemilik lahan. Dengan luasan lahan olah 200 ha diproyeksikan brigade
pangan berpenghasilan 10juta/bulan. Dengan asumsi dalam satu musim tanam total
biaya produksi 1,97 M, omset 4,55 M (provitas 3,5 ton/ha, harga gabah 6,5rb/kg) keuntungan usaha tani 2,58 M dengan proporsi
BP dan alsintan 70% maka potensi keuntungan usaha tani BP 1,87 M pendapatan
petani milenial 10,37 juta/bulan.
Pecapaian sebagaimana yang diperkirakan tentu bukan hal yang mudah
sehingga ditahap awal, brigade pangan mendapatkan pendampingan dari tenaga
penyuluh pertanian dengan tugas utama melakukan pendampingan brigade pangan
dalam konsolidasi dengan pemilik lahan, penyusunan dan pelaksanaan kerja sama,
mendampingi kegiatan budidaya tanaman padi sehingga mampu meningkatkan indeks
pertanaman mulai IP 1 sampa dengan IP 3, artinya lahan musim tanam yang dikelola, mampu menghasilkan sekali
panen dalam setahun hingga tiga kali panen dalam setahun.
Swasembada pangan sangat mungkin diraih
Meski tak mudah