Kamis, 09 Januari 2025

Bukan Cita-Citaku Menjadi Abdi Negara

 

Gadis kecil dengan pandangan nanar melihat seorang ayah yang begitu kecewa melihat gabah yang menghitam karena tidak bisa dijemur disebabkan cuaca hujan turun terus menerus  selama beberapa hari. Gadis kecil nan pendiam itu masih kelas 3 SD tetapi dia, dia gadis pemikir yang punya hobi mengobsevasi situasi sekelilingnya. Sejak saat itulah dia memutuskan untuk tidak mau menjadi petani.

Di saat musim tanam dia sering dibawa ayahnya untuk ke koperasi untuk sekedar membeli pupuk, membeli benih. Dibenaknya menjadi petani pekerjaan yang berat risiko tinggi dan hasil yang minimal. Terkadang tak cukup uang untuk biaya tanam dan hasil sangat tidak memadai.

Dia berpikir satu-satunya jalan untuk mentas dari situasi tersebut dengan rajin belajar. Dan mulailah dia memperjuangkan masa depannya dengan sungguh-sungguh. Tekad bulat tertanam dalam hati apapun profesinya dimasa depan ...asal bukan petani.

Sekolah dasar terlewati dengan cukup memuaskan lanjut ke sekolah menengah. Masuklah dia ke salah satu  SMP favorit di kotanya. Masa SMP dilalui dengan cukup indah dan 3 tahun kemudian berhasil lulus dengan cukup memuaskan. Perjalanan berlanjut ke jenjang sekolah berikutnya. Beharap bisa masuk SMA dengan harapan dijenjang perguruan tinggi lebih leluasa memilih jurusan. Tapi apa mau dikata titah orang tua dalam hal ini ayah mengaharuskan dia masuk SMK dengan harapan lulus SMK bisa langsung kerja. Haa kerjaa.. kerja apa… jaga toko..atau menjadi tenaga honor di kantor kecamatan..oh tidakk. Dalam hati dia mengatakan harus kuliah apapun yang terjadi.

Masa-masa SMA masa pencarian jati diri, mulai mencoba sedikit bandel dengan mengurangi durasi belajar dan menambah durasi nongkrong dengan teman-teman. Walau demikian dia tetap tidak melupakan cita-citanya apapun profesinya asal bukan petani. Kelas 1 SMK dilewati dengan yaa lumayanlah naik kelas juga.Kelas 2 SMK nilai raport mulai agak terjun bebas. Walau begitu dia tetap memegang teguh cita-citanya.

Pada suatu kesempatan, di sekolah kedatangan tamu mas-mas dan mbak mbak putra daerah yang telah bersekolah di salah satu sekolah kedinasan. Dengan tipikal diam dan mengobservasi Si gadis Cuma membatin ini kesempatan emas untuk kuliah. Kuliah gratis dan jaminan lulus menjadi pegawai negeri. Artinya kuliah cita-cita pribadi, selesai kuliah langsung kerja adalah harapan orang tua. That’s it kesempatan jangan disia-siakan.

Masih ada waktu mulailah dia membangun mimpi untuk bisa kuliah. Mulai saat itu benaknya selalu dipenuhi dengan kuliah kuliah kuliah. Dasar remaja dia masih juga berkutat dengan pencarian jati diri, dia tetap asyik dengan teman-temannya.

Di detik-detik kelulusan SMK ..dia lulus dengan nilai pas-pas an sekedar untuk memenuhi syarat bisa mendaftar sekolah kedinasan. Mulailah dia mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk sekolah kedinasan. Dan dengan ijin dan kekuatan doa orang tua dia LULUS.

Masa perkuliahan cukup menyenangkan dengan vibe baru, menambah teman dan yang menakjubkan mendengar berbagai macam dialek bahasa yang belum pernah didengar, it’s wonderful Indonesia.

Sisi lain masa perkuliahan dilewati dengan mengalir saja menikmati hari demi hari, masuk kelas, belajar, mengerjakan tugas  sama seperti pada umumnya mahasiswa, dengan target yang tidak muluk-muluk yaitu LULUS.

Enam semester berlalu dan dia dinyatakan LULUS, setelah lulus dia mulai magang di beberapa kantor yang ada di Ibukota sampai SK penempatan keluar. Dua bulan  merasakan hiruk-pikuk dunia kerja di ibukota pagi-pagi buta mengejar kopaja metromini saat sore merasakan macet yang luar biasa, akhirnya SK penempatan yang ditunggu-tunggu datang juga.

Satu-satu dari mereka menerima SK penempatan yang dibagikan di depan eks Gedung Mahkamah Agung, aneka macam pemandangan tersaji ada ucapan syukur ada yang bingung ada yang nangis ada yang langsung melihat peta. SK diapun diterima dan dibuka perlahan dan terpampang .....Kota SURABAYA..alhamdulillah dimanapun hanya layak di syukuri.

Pengabdian sebagai pegawai negeri sipil dimulai dari Kota Surabaya dan tak terasa 29 tahun telah berlalu. Baginya menjadi abdi negara adalah anugrah sebagai jalan hidup yang dipilihkan oleh Yang Maha Kuasa. Menjadi abdi negara tidak membuatnya kaya secara materi akan tetapi cukup untuk HIDUP.

 

DESTINY THAT EVER HAPPENED

ONLY ONE WORD THAT I CAN SAY

ALHAMDULILLAH

1 komentar: