Gadis kecil dengan pandangan nanar
melihat seorang ayah yang begitu kecewa melihat gabah yang menghitam karena
tidak bisa dijemur disebabkan cuaca hujan turun terus menerus selama beberapa hari. Gadis kecil nan pendiam
itu masih kelas 3 SD tetapi dia, dia gadis pemikir yang punya hobi mengobsevasi
situasi sekelilingnya. Sejak saat itulah dia memutuskan untuk tidak mau menjadi
petani.
Di saat musim tanam dia sering
dibawa ayahnya untuk ke koperasi untuk sekedar membeli pupuk, membeli benih. Dibenaknya
menjadi petani pekerjaan yang berat risiko tinggi dan hasil yang minimal.
Terkadang tak cukup uang untuk biaya tanam dan hasil sangat tidak memadai.
Dia berpikir satu-satunya jalan
untuk mentas dari situasi tersebut dengan rajin belajar. Dan mulailah dia memperjuangkan
masa depannya dengan sungguh-sungguh. Tekad bulat tertanam dalam hati apapun profesinya dimasa depan ...asal bukan
petani.
Sekolah dasar terlewati dengan
cukup memuaskan lanjut ke sekolah menengah. Masuklah dia ke salah satu SMP favorit di kotanya. Masa SMP dilalui
dengan cukup indah dan 3 tahun kemudian berhasil lulus dengan cukup memuaskan.
Perjalanan berlanjut ke jenjang sekolah berikutnya. Beharap bisa masuk SMA
dengan harapan dijenjang perguruan tinggi lebih leluasa memilih jurusan. Tapi apa
mau dikata titah orang tua dalam hal ini ayah mengaharuskan dia masuk SMK
dengan harapan lulus SMK bisa langsung kerja. Haa kerjaa.. kerja apa… jaga
toko..atau menjadi tenaga honor di kantor kecamatan..oh tidakk. Dalam hati dia
mengatakan harus kuliah apapun yang terjadi.
Masa-masa SMA masa pencarian jati
diri, mulai mencoba sedikit bandel dengan mengurangi durasi belajar dan
menambah durasi nongkrong dengan teman-teman. Walau demikian dia tetap tidak
melupakan cita-citanya apapun profesinya asal bukan petani. Kelas 1 SMK
dilewati dengan yaa lumayanlah naik kelas juga.Kelas 2 SMK nilai raport mulai
agak terjun bebas. Walau begitu dia tetap memegang teguh cita-citanya.
Pada suatu kesempatan, di sekolah
kedatangan tamu mas-mas dan mbak mbak putra daerah yang telah bersekolah di
salah satu sekolah kedinasan. Dengan tipikal diam dan mengobservasi Si gadis
Cuma membatin ini kesempatan emas untuk kuliah. Kuliah gratis dan jaminan lulus
menjadi pegawai negeri. Artinya kuliah cita-cita pribadi, selesai kuliah
langsung kerja adalah harapan orang tua. That’s it kesempatan jangan
disia-siakan.
Masih ada waktu mulailah dia
membangun mimpi untuk bisa kuliah. Mulai saat itu benaknya selalu dipenuhi
dengan kuliah kuliah kuliah. Dasar remaja dia masih juga berkutat dengan
pencarian jati diri, dia tetap asyik dengan teman-temannya.
Di detik-detik kelulusan SMK ..dia
lulus dengan nilai pas-pas an sekedar untuk memenuhi syarat bisa mendaftar
sekolah kedinasan. Mulailah dia mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk
sekolah kedinasan. Dan dengan ijin dan kekuatan doa orang tua dia LULUS.
Masa perkuliahan cukup
menyenangkan dengan vibe baru, menambah teman dan yang menakjubkan mendengar
berbagai macam dialek bahasa yang belum pernah didengar, it’s wonderful
Indonesia.
Sisi lain masa perkuliahan dilewati
dengan mengalir saja menikmati hari demi hari, masuk kelas, belajar,
mengerjakan tugas sama seperti pada
umumnya mahasiswa, dengan target yang tidak muluk-muluk yaitu LULUS.
Enam semester berlalu dan dia
dinyatakan LULUS, setelah lulus dia mulai magang di beberapa kantor yang ada di
Ibukota sampai SK penempatan keluar. Dua bulan
merasakan hiruk-pikuk dunia kerja di ibukota pagi-pagi buta mengejar
kopaja metromini saat sore merasakan macet yang luar biasa, akhirnya SK
penempatan yang ditunggu-tunggu datang juga.
Satu-satu dari mereka menerima SK
penempatan yang dibagikan di depan eks Gedung Mahkamah Agung, aneka macam
pemandangan tersaji ada ucapan syukur ada yang bingung ada yang nangis ada yang
langsung melihat peta. SK diapun diterima dan dibuka perlahan dan terpampang .....Kota
SURABAYA..alhamdulillah dimanapun hanya layak di syukuri.
Pengabdian sebagai pegawai negeri
sipil dimulai dari Kota Surabaya dan tak terasa 29 tahun telah berlalu. Baginya
menjadi abdi negara adalah anugrah sebagai jalan hidup yang dipilihkan oleh
Yang Maha Kuasa. Menjadi abdi negara tidak membuatnya kaya secara materi akan
tetapi cukup untuk HIDUP.
DESTINY THAT EVER HAPPENED
ONLY ONE WORD THAT I CAN SAY
ALHAMDULILLAH
Mantap mbakyuuuu
BalasHapus