Kamis, 09 Januari 2025

Aku Dan Empat Anak Lelakiku

 

Menjadi perempuan adalah anugerah yang luar biasa dari Allah Swt. Menjadi perempuan diberi kesempatan memiliki ladang pahala yang tak pernah kering. Perempuan memiliki kesempatan untuk beribadan sepanjang waktu, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi berpotensi mendatangkan catatan amal kebaikan sepanjang waktu. Menjadi istri pahala besar menjadi ibu pahala besar ditambah lagi apabila mengambil peran menjadi pekerja, pahala lagi.

Menjalani banyak peran diwaktu yang bersamaan tidaklah mudah, waalaupun sebenarnya tidak semua peran harus diambil. Semua peran bisa dipilih atau tidak. Bagaimanapun dibalik setiap pilihan ada  tanggung jawab yang mengikuti.

Menjadi istri diikuti tanggung jawab berbakti pada suami, menjadi ibu dibarengi dengan tanggung jawab merawat, mengasuh dan mendidik anak-anak, menjadi pekerja menempel tanggung jawab menyelesaikan tugas pekerjaan. Bagiku ketiga peran itu adalah anugrah indah dari Allah. Indah sekali karena tidak semua perempuan diberi kesempatan untuk menjalani 3 peran sekaligus.

Menjadi ibu adalah peran terhebat bagi setiap perempuan, bagaimana tidak... dari rahimnya Allah titipkan generasi baru untuk menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia di muka bumi.

Diberi kesempatan melahirkan empat anak laki-laki sungguh suatu keajaiaban dari yang Maha Kuasa. Masih ingat Ketika anak mbarep lahir 9 bulan setelah pernikahan, rasanya terlalu cepat, pernikahan baru seumur jagung, tiba-tiba muncul manusia kecil lemah.. yang dalam benakku berpikir anak itu sangat tergantung padaku, jujur saat itu sempat mengalami syndrome pasca melahirkan, ada rasa takut, was-was, terjadi apa-apa dengan makhluk kecil ini. Serasa terjerat dengan bayi ini tidak bisa kemana-mana, harus siap bangun malam jam berapapun. Sungguh luar biasa anugerah-Nya, waktu berlalu begitu cepat anak mbarepku bertumbuh menjadi bayi sehat dan saat telah menyelesaiakan sarjananya.

Tiga tahun kemudian anak laki-laki kedua lahir... dia bayi yang lucu dengan mata bulat dan senyum yang selalu sumringah. Anak kedua yang selalu minta ditemani melek di malam hari dia bisa melek hingga dini hari dan bangun menjalang siang dan tanpa terasa bayiku ini sekarang memasuki semester 7. Berselang 3 tahun bayi laki-laki ketigaku lahir dengan proses kelahiran yang cukup dramatis, sejenak pasca melahirakan tiba-tiba ada rasa pengin kencing, dan olah perawat diminta turun dari bed, sampai di kamar mandi tiba-tiba darah mengalir deras bak kran air yang terbuka, dan selanjutnya gelap, hanya sayup-sayup terdengar kepanikan bidan, perawat dan ibu mertua, Alhamdulillah tidak sampai terjadi shock, selang infus segera terpasang dan aku-pun siuman dari pingsan sejenak. Sungguh pengalaman yang cukup mendebarkan. Waktu berlalu begitu cepat anak ketiga ini sudah memasuki bangku kuliah semesater 1.

Menjalani rutinitas menjadi ibu dengan 3 anak laki-laki sekaligus harus berdinas sebagai pekerja bukanlah tugas yang mudah. Karena bagiku saat berada di rumah aku menjadi ibu sepenuhnya walau ada pengasuh anak-anak, aku tetap menyusui bayi-bayiku, menyuapi mereka, mengganti popok di malam hari, bahkan melakukan toilet training. aku berpikir waktuku tidak banyak membersamai mereka... jadi ketika di rumah maka waktuku untuk mereka.

 Diberi amanah 3 anak laki-laki bagi kami sudah cukup, terbayang repotnya ketika mereka harus mulai memasuki bangku sekolah. Seiring berjalannya waktu..sampai juga waktunya mereka bertiga bersekolah semua mengalir saja ternyata... selalu ada jalan untuk segala kerepotan yang terbayang sebelumya. Indahnya menjadi ibu sekaligus pekerja.

Lima tahun 6 bulan  berlalu sejak kelahiran anak ketiga, sedang senang-senangnya mengasuh 3 anak, menikmati keriuhan pagi,menyiapkan anak-anak sekolah menyiapkan sarapan mereka,  menyiapkan diri sendiri berangkat kerja. Rejeki terkadang datang tak didgua tak dinyana, ternyata kami diberi bonus rejeki satu anak laki-laki lagi, surprise kejutan indah bagi kami sekeluarga, sekaligus kebayang segala kerepotan dan kegaduhan, capek, lelah, dan melek malam lagi.

Seringkali ketakutan hanya ada diangan-angan saja ketika dijalani saja, ternyata bisa kok...mampu kok. Hidup tetap berjalan dengan segala pernak-perniknya, sebentar sedih berganti senang, tangis berganti tawa, duka berganti  bahagia, malam berganti siang, terkadang hujan sebentar berganti panas, sejenak mendung tiba-tiba berganti cerah, demikian seterusnya. Tak terasa 13 tahun berlalu si ragil kini telah duduk di kelas 8 telah remaja dia.

Hidup kadang tak pernah terbayang akan seperti apa cerita yang harus dijalani. Membersamai 4 anak laki-laki bukan bagian dari rencana yang pernah dibuat. Setelah mereka besar terkadang terbayang bagaimana mereka diwaktu kecil. Ada yang sakit-sakitan harus bolak balik ke dokter, ada yang bingung puting sehingga dalam satu hari harus tiga kali bolak balik kantor rumah untuk menyusui ada juga yang maunya ditemani bermain sampe dini hari, ada yang kalau punya mau ga bisa dialihkan ke apapun.

Berbagai seni jalan hidup.. tidak mungkin rasanya diri mampu menjalani perjalanan ceritanya tanpa pertolongan  Allah, sehingga tiap episode bisa dijalani dengan baik, bisa dilewati dengan seharusnya. Baru menyadari... di setiap step skenario Allah, ternyata sudah disiapkan paket pertolongan-Nya, manusia tinggal memohon dan memintanya dalam doa. 


Hasbunallah wa ni’mal wakill..!!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar