Menjadi perempuan adalah anugerah
yang luar biasa dari Allah Swt. Menjadi perempuan diberi kesempatan memiliki ladang
pahala yang tak pernah kering. Perempuan memiliki kesempatan untuk beribadan
sepanjang waktu, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi berpotensi
mendatangkan catatan amal kebaikan sepanjang waktu. Menjadi istri pahala besar
menjadi ibu pahala besar ditambah lagi apabila mengambil peran menjadi pekerja,
pahala lagi.
Menjalani banyak peran diwaktu
yang bersamaan tidaklah mudah, waalaupun sebenarnya tidak semua peran harus
diambil. Semua peran bisa dipilih atau tidak. Bagaimanapun dibalik setiap
pilihan ada tanggung jawab yang
mengikuti.
Menjadi istri diikuti tanggung
jawab berbakti pada suami, menjadi ibu dibarengi dengan tanggung jawab merawat,
mengasuh dan mendidik anak-anak, menjadi pekerja menempel tanggung jawab
menyelesaikan tugas pekerjaan. Bagiku ketiga peran itu adalah anugrah indah
dari Allah. Indah sekali karena tidak semua perempuan diberi kesempatan untuk
menjalani 3 peran sekaligus.
Menjadi ibu adalah peran terhebat
bagi setiap perempuan, bagaimana tidak... dari rahimnya Allah titipkan generasi
baru untuk menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia di muka bumi.
Diberi kesempatan melahirkan empat
anak laki-laki sungguh suatu keajaiaban dari yang Maha Kuasa. Masih ingat
Ketika anak mbarep lahir 9 bulan setelah pernikahan, rasanya terlalu cepat,
pernikahan baru seumur jagung, tiba-tiba muncul manusia kecil lemah.. yang
dalam benakku berpikir anak itu sangat tergantung padaku, jujur saat itu sempat
mengalami syndrome pasca melahirkan, ada rasa takut, was-was, terjadi apa-apa
dengan makhluk kecil ini. Serasa terjerat dengan bayi ini tidak bisa kemana-mana,
harus siap bangun malam jam berapapun. Sungguh luar biasa anugerah-Nya, waktu
berlalu begitu cepat anak mbarepku bertumbuh menjadi bayi sehat dan saat telah menyelesaiakan sarjananya.
Tiga tahun kemudian anak laki-laki
kedua lahir... dia bayi yang lucu dengan mata bulat dan senyum yang selalu
sumringah. Anak kedua yang selalu minta ditemani melek di malam hari dia bisa
melek hingga dini hari dan bangun menjalang siang dan tanpa terasa bayiku ini sekarang memasuki
semester 7. Berselang 3 tahun bayi laki-laki ketigaku lahir dengan proses kelahiran
yang cukup dramatis, sejenak pasca melahirakan tiba-tiba ada rasa pengin
kencing, dan olah perawat diminta turun dari bed, sampai di kamar mandi
tiba-tiba darah mengalir deras bak kran air yang terbuka, dan selanjutnya gelap,
hanya sayup-sayup terdengar kepanikan bidan, perawat dan ibu mertua,
Alhamdulillah tidak sampai terjadi shock, selang infus segera terpasang dan
aku-pun siuman dari pingsan sejenak. Sungguh pengalaman yang cukup
mendebarkan. Waktu berlalu begitu cepat anak ketiga ini sudah memasuki bangku
kuliah semesater 1.
Menjalani rutinitas menjadi ibu
dengan 3 anak laki-laki sekaligus harus berdinas sebagai pekerja bukanlah tugas
yang mudah. Karena bagiku saat berada di rumah aku menjadi ibu sepenuhnya walau
ada pengasuh anak-anak, aku tetap menyusui bayi-bayiku, menyuapi mereka, mengganti popok di
malam hari, bahkan melakukan toilet training. aku berpikir waktuku tidak banyak membersamai
mereka... jadi ketika di rumah maka waktuku untuk mereka.
Diberi amanah 3 anak laki-laki bagi kami sudah
cukup, terbayang repotnya ketika mereka harus mulai memasuki bangku sekolah.
Seiring berjalannya waktu..sampai juga waktunya mereka bertiga bersekolah semua
mengalir saja ternyata... selalu ada jalan untuk segala kerepotan yang terbayang
sebelumya. Indahnya menjadi ibu sekaligus pekerja.
Lima tahun 6 bulan berlalu sejak kelahiran anak ketiga, sedang
senang-senangnya mengasuh 3 anak, menikmati keriuhan pagi,menyiapkan anak-anak
sekolah menyiapkan sarapan mereka,
menyiapkan diri sendiri berangkat kerja. Rejeki terkadang datang tak
didgua tak dinyana, ternyata kami diberi bonus rejeki satu anak laki-laki lagi,
surprise kejutan indah bagi kami sekeluarga, sekaligus kebayang segala kerepotan
dan kegaduhan, capek, lelah, dan melek malam lagi.
Seringkali ketakutan hanya ada diangan-angan saja ketika dijalani saja, ternyata bisa kok...mampu kok. Hidup tetap berjalan dengan
segala pernak-perniknya, sebentar sedih berganti senang, tangis berganti tawa,
duka berganti bahagia, malam berganti
siang, terkadang hujan sebentar berganti panas, sejenak mendung tiba-tiba berganti
cerah, demikian seterusnya. Tak terasa 13 tahun berlalu si ragil kini telah
duduk di kelas 8 telah remaja dia.
Hidup kadang tak pernah
terbayang akan seperti apa cerita yang harus dijalani. Membersamai 4 anak laki-laki
bukan bagian dari rencana yang pernah dibuat. Setelah mereka besar terkadang
terbayang bagaimana mereka diwaktu kecil. Ada yang sakit-sakitan harus bolak
balik ke dokter, ada yang bingung puting sehingga dalam satu hari harus tiga
kali bolak balik kantor rumah untuk menyusui ada juga yang maunya ditemani
bermain sampe dini hari, ada yang kalau punya mau ga bisa dialihkan ke apapun.
Berbagai seni jalan hidup.. tidak mungkin rasanya diri mampu menjalani perjalanan ceritanya tanpa pertolongan Allah, sehingga tiap episode bisa dijalani dengan baik, bisa dilewati dengan seharusnya. Baru menyadari... di setiap step skenario Allah, ternyata sudah disiapkan paket pertolongan-Nya, manusia tinggal memohon dan memintanya dalam doa.
Hasbunallah wa ni’mal wakill..!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar