Sabtu, 04 Januari 2025

Hommy

 

    Orang bilang rumah adalah tempat ternyaman di dunia, disana ada cinta dan ketulusan. Berkumpul sekelompok manusia yang terikat dalam satu komunitas yang disebut keluarga. Tatanan tradisional keluarga terdiri dari kepala keluarga ada anggota keluarga. Itulah gambaran umum tentang rumah atau tempat tinggal.

    Kadang -kadang rumah sekaligus juga menjadi sumber konflik, bahkan terkadang ada  situasi dalam keluarga tidak saling memafkan hingga waktu yang panjang. Akan tetapi rumah teteplah rumah bagi penghuninya tak tergantikan.

    Tak terkecuali sebuah tempat yang aku sebut sebagai rumahku, tak kecil tak juga besar bahkan kalau dibilang bagus akan tetapi disana sini terdapat lubang pada temboknya.. anyway that’s my home. Ada cinta tulus disana ada kehangatan keluarga melingkupinya.

    Nothing last forever…tak ada yang abadi pun rumah yang dalam benak ku akui sebagai rumahku.. saat bersama orang tua aku mengaku rumahku ada disana,  saat usia 18 tahun rumah itu kutinggalkan. Untuk melanjutkan perjalanan cerita hidup merangkai cerita indah yang telah disusun skenarionya oleh semesta Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT.

    Pun setelah diberi rumah sendiri (aku memaknai begitu) saat ini rumah itupun kutinggalkan. Rumah dinas yang kuhuni saat ini kemaknai sebagai rumahku ntah akan berapa lama kuhuni, pada saatnya SK memutuskan untuk pergi maka tak dapat pula memaksa untuk tetap tinggal.

    Pada akhirnya waktu jualah yang memisahkanku dari rumahku. Diusia 18 aku pergi meninggalkan rumahku (rumah orang tuaku) menuju rumahku yang lain (kos), diusia 21 tahun aku harus meninggalkan rumah ku untuk menuju rumahku lagi (kos di surabaya). Diusia 24 pun kudu berpindah rumah lagi menuju rumah kontrakan. Cukup lama di rumah kontrakan hingga di usia 28 tahun memiliki rumah yang tidak pernah dihuni, pun rumah yang tidak pernah dihuni tetap ku akui sebagai rumahku. Sampai pada akhirnya memutuskan stay pada rumah tinggal yang pada akhirnya kutinggalkan juga, setelah 17 tahun menghuninya. Rumahku berganti ke rumah dinas nun jauh dari rumah tinggalku, pun rumah dinas aku akui sebagai rumahku saat ini. Berapa lama akan aku huni, who knows, apa kata SK berikutnya.

    Rumah orang tua rumah kos rumah tinggal rumah dinas pada akhirnya kutinggalakan tak ada yang ku huni selamanya. Nah terus mana hunian yang sebenarnya kalau pada akhirnya semua ditinggalkan? Adakah rumah yang sejati yang kuhuni. Rumah yang kemanapun akan terus mengikuti, dibawa kemanapun pergi, bahkan tak pernah bisa ditinggalkan. Itulah hati (qalbu), rumah sejati tempatku bersemayam.

    Ternyata diriku mirip-mirip siput yach, kemana-mana membawa rumah. Cuma bedanya rumah siput nampak dari luar, sedangkan rumah sejatiku bahkan berada di dalam diri terdalam dan dialah kunci. Qolbu bagus bersih tenang maka badan fisikku pun “TENANG”.

THAT’s The REAL HOMMY

My Heart is my temple

Hatiku Masjidku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar