Orang bilang rumah
adalah tempat ternyaman di dunia, disana ada cinta dan ketulusan. Berkumpul
sekelompok manusia yang terikat dalam satu komunitas yang disebut keluarga. Tatanan
tradisional keluarga terdiri dari kepala keluarga ada anggota keluarga. Itulah
gambaran umum tentang rumah atau tempat tinggal.
Kadang -kadang rumah
sekaligus juga menjadi sumber konflik, bahkan terkadang ada situasi dalam keluarga tidak saling memafkan
hingga waktu yang panjang. Akan tetapi rumah teteplah rumah bagi penghuninya
tak tergantikan.
Tak terkecuali sebuah
tempat yang aku sebut sebagai rumahku, tak kecil tak juga besar bahkan kalau
dibilang bagus akan tetapi disana sini terdapat lubang pada temboknya.. anyway that’s
my home. Ada cinta tulus disana ada kehangatan keluarga melingkupinya.
Nothing last
forever…tak ada yang abadi pun rumah yang dalam benak ku akui sebagai rumahku..
saat bersama orang tua aku mengaku rumahku ada disana, saat usia 18 tahun rumah itu kutinggalkan. Untuk
melanjutkan perjalanan cerita hidup merangkai cerita indah yang telah disusun
skenarionya oleh semesta Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT.
Pun setelah diberi
rumah sendiri (aku memaknai begitu) saat ini rumah itupun kutinggalkan. Rumah
dinas yang kuhuni saat ini kemaknai sebagai rumahku ntah akan berapa lama
kuhuni, pada saatnya SK memutuskan untuk pergi maka tak dapat pula memaksa
untuk tetap tinggal.
Pada akhirnya waktu
jualah yang memisahkanku dari rumahku. Diusia 18 aku pergi meninggalkan rumahku
(rumah orang tuaku) menuju rumahku yang lain (kos), diusia 21 tahun aku harus
meninggalkan rumah ku untuk menuju rumahku lagi (kos di surabaya). Diusia 24
pun kudu berpindah rumah lagi menuju rumah kontrakan. Cukup lama di rumah
kontrakan hingga di usia 28 tahun memiliki rumah yang tidak pernah dihuni, pun
rumah yang tidak pernah dihuni tetap ku akui sebagai rumahku. Sampai pada
akhirnya memutuskan stay pada rumah tinggal yang pada akhirnya kutinggalkan
juga, setelah 17 tahun menghuninya. Rumahku berganti ke rumah dinas nun jauh
dari rumah tinggalku, pun rumah dinas aku akui sebagai rumahku saat ini. Berapa
lama akan aku huni, who knows, apa kata SK berikutnya.
Rumah orang tua rumah kos rumah tinggal rumah dinas pada akhirnya kutinggalakan tak ada yang ku huni selamanya. Nah terus mana hunian yang sebenarnya kalau pada akhirnya semua ditinggalkan? Adakah rumah yang sejati yang kuhuni. Rumah yang kemanapun akan terus mengikuti, dibawa kemanapun pergi, bahkan tak pernah bisa ditinggalkan. Itulah hati (qalbu), rumah sejati tempatku bersemayam.
Ternyata diriku
mirip-mirip siput yach, kemana-mana membawa rumah. Cuma bedanya rumah siput nampak
dari luar, sedangkan rumah sejatiku bahkan berada di dalam diri terdalam dan
dialah kunci. Qolbu bagus bersih tenang maka badan fisikku pun “TENANG”.
THAT’s
The REAL HOMMY
My
Heart is my temple
Hatiku
Masjidku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar