Aku memiliki 2
ibu, ibu kandung dan ibu mertua, dua-duanya Wanita hebat dimataku, Ibuku
memiliki 5 anak 4 perempuan 1 laki-laki, sedangkan ibu mertuaku memiliki 5 anak
juga 3 perempuan 2 laki-laki. Beliau berdua karakternya sangat berlawanan,
ibuku sangat pendiam ataua dalam bahasa umum introvert sedangkan ibu mertua
sebaliknya sangat terbuka atau extrovert. Perawakan ibu tinggi besar dan ibu
mertua dengan perawakan pendek dengan otot yang kuat nan kokoh.
Ibuku terlahir
dimasa revolusi, sekitar tahun 1947 atau 1948 dimasa itu sepertinya pendokumentasian
belumlah menjadi kebutuhan yang mendesak, kelahiran seseorang seringkali hanya
diingat-ingat dengan peristiwa yang terjadi missal bersamaan dengan banjir
bandang, atau bebarengan dengan gunung Meletus, pun dengan penamaan terkadang
juga untuk menandai peristiwa yang terjadi.
Budaya
patriarki amat kental di era itu, dimana peran perempuan tidak jauh-jauh dari
dapur, sumur dan kasur. Tidak banyak peran yang bisa diambil perempuan kala
itu. Tunduk patuh para lelaki sebagai suaminya apapun kondisinya dan
bagaimanapun perangainya. Beberapa kali
aku menjumpai beliau menangis dalam diamnya, kala itu diri ini belum paham apa
yang sebenarnya sedang dirasakan olehnya. Kini setelah merasakan berumahtangga
ternyata seberat itu yang harus dijalani. Sehingga dengan budaya patriarki
tentu jauh lebih berat lagi. Dilarang protes bahkan tak pernah secara ekplisit
mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya, pilihannya adalah nrimo dan pasrah
menjalani kehidupan.
Ada saat dimana
ibuku nampak begitu bahagia dalam diamnya, tubuhnya begitu segar di tahun 1996
ketka anak pertamanya pulang Kembali ke kampung setelah lama merantau, anak
kedua sudah memulai membangun rumah tangganya dan anak ketiga diterima kerja, sedangkan
anak keempat dan kelima masih sekolah. Dan beliau tetap pendiam dalam
bahagianya tidak ada ekpresi yang berlebihanm wajahnya cerah senyumnya
sumringah, itu saja yang nampak.
Fluktuasi
kehidupan tak dapat dihindari, rupanya ibuku diuji ketahanan mental dalam
diamnya dengan kondisi rumah tangga salah satu anaknya yang gonjang ganjing,
begitu menguras emosi dan energinya, yang akhirnya nampaklah guratan kesedihan
di raut wajahnya, senyum sumringahnya memudar, tubuhnyapun ikut merenta, dalam
kondisi demikian, belaiu sangat luar biasanya beliau tetap tabah mampu melewati
badai tersebut, berdiri kokoh dalam diamnya, tanpa curhat tanpa airmata, hanya
sujud di malam hari sebagai tempat singgah yang menenangkan qalbunya.
Diujung masa
hidupnya beliau terkena serangan stroke pada tahun 2019 tepatnya ditanggal 20
Oktober, pengobatan dilakukan terapi dilakukan apadaya faktor usia dan semangat
hidup yang tak lagi menyala, membuat kondisi beliau terus menurun, tepat di
hari Jumat 6 Agustus 2021 beliau kembali pulang kepada Pemilik sejatinya Allah
Swt. In memoriam Ibuku Terima kasih teladan sabarnya.
Sungguh
kepribadian yang sangat bertolak belakang, ibu mertuaku orang yang super
extrovert, lugas, tegaas tanpa basa-basi. Omongannya kasar tapi memiliki hati
yang sangat tulus, helpfull, sangat dermawan kepada siapapun, ga peduli
keluarga ataupun orang lain, orang yang telah dikenal lama maupun yang baru
dikenal. Beliau tidak memiliki pikiran jelek pada orang lain dan sangat pemaaf.
Ketika Bulan
Ramadhan tiba beliau begitu antusias menyambutnya. Beberapa hari menjelang
beliau akan melakukan perjalanan menuju cucu terjauh dan terbanyak. Kegemaran
memasaknya sangat dinantikan cucunya, rendang, ayam goreng, sop iga, pindang
tulang adalah menu andalan yang sangat digemari cucunya. Sop buah menjadi
andalan minuman untuk buka puasa. Beliau begitu bahagia tatkala semua masakan
ludes dalam sekejap, makin bersemangatlah beliau memasak.
Dua puluh hari
Ramadhan berlalu, tibalah saat sepuluh hari terakhir. Itikaf di masjid
merupakan salah satu moment yang membahagiakan beliau, selain memperbanyak
ibadah, ada satu malam dimana beliau mendapatkan jatah masak bagi seluruh
jamaah di masjid untuk sahur bersama, sop iga
menu andalan beliau yang pastinya disukai semua jamaah.
Setiap
kelahiran cucunya beliau selalu mengusahakan hadir, dari 13 cucu beliau hanya 2
orang cucu yang tidak mendapatkan sentuhan beliau pasca kelahiran. Bahkan
pernah suatu ketika beliau menghadiri kelahiran 3 cucunya yang yang hanya
berselang beberapa hari dengan jarak yang berjauhan Surabaya, Jambi, Lampung.
Itu dilakukan karena cinta dan sayangnya kepada anak cucu.
Suatu ketika
menjelang anak keduaku lahir beliau sampai jam 2 siang setelah menempuh
perjalanan Lampung Surabaya dengan naik bis. Karena tanda-tanda kelahiran makin
jelas, tanpa istirahat kami ke rumah sakit dan 4 jam kemudian cucunya lahir.
Malam-malam menantunya ini kalaparan pasca melahirakn dan beliau berjalan
sendirian di Lorong rumah sakit yang sepi , mencari makanan apa saja agar
menantunya bisa makan.
Pengalaman
mendebarkan bersama ibu mertua terjadi
lagi saat aku melahirkan anak ke-3, terjadi pendarahan hebat 2 jam pasca
melahirkan. Terasa ingin kencing dan bidan menyuruhku turun dari bed untuk
kecing di kamar mandi. Bersamaan dengan kencing keluarlah darah segar seperti
kran air. Sayup-sayup terdengar kepanikan bidan perawat dan ibu mertua ternyata
aku pingsan karena terlalu banyak darah keluar. Segera badanku diangkat kembali
ke bed dan dilakukan tindakan sesuai sop. Alhamdulillah kecekatan dan kesigapan
ibu mertua menjadi kepanjangan tangan Allah menyelamatkanku.
Ketika waktunya
sudah tiba ternyata seribu jalan menuju kepulangan. Virus Covid -19 yang sempat
singgah di tubuh ibu mertua rupanya menajadi awal jalan kepualangan beliau,
pasca Covid-19 tubuh beliau mulai menurun, tak lagi gesit seperti dulu,
jalanpun mulai oleng sering terjatuh tanpa sebab dan mengakibatkan beberapa
retakan di tulang belakang. Pengobatan dan terapi terus dilakukan akan tetapi sepertinya
semangat beliau untuk sembuh telah terkikis oleh kondisi fisik yang terus
melemah. Pada akhirnya beliau menyerah pada takdir , tepat malam takbiran 10
Dzulhijjah 1446 atau Jumat, 6 Juni 2025 beliau berpulang. In Memoriam Ibu
mertua terima kasih teladan tulus dan baiknya hati. Dua jimat keramatku
berpulang di Hari Jumat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar