Jumat, 04 Juli 2025

Dua Jimat Keramat

 


Aku memiliki 2 ibu, ibu kandung dan ibu mertua, dua-duanya Wanita hebat dimataku, Ibuku memiliki 5 anak 4 perempuan 1 laki-laki, sedangkan ibu mertuaku memiliki 5 anak juga 3 perempuan 2 laki-laki. Beliau berdua karakternya sangat berlawanan, ibuku sangat pendiam ataua dalam bahasa umum introvert sedangkan ibu mertua sebaliknya sangat terbuka atau extrovert. Perawakan ibu tinggi besar dan ibu mertua dengan perawakan pendek dengan otot yang kuat nan kokoh.

Ibuku terlahir dimasa revolusi, sekitar tahun 1947 atau 1948 dimasa itu sepertinya pendokumentasian belumlah menjadi kebutuhan yang mendesak, kelahiran seseorang seringkali hanya diingat-ingat dengan peristiwa yang terjadi missal bersamaan dengan banjir bandang, atau bebarengan dengan gunung Meletus, pun dengan penamaan terkadang juga untuk menandai peristiwa yang terjadi.

Budaya patriarki amat kental di era itu, dimana peran perempuan tidak jauh-jauh dari dapur, sumur dan kasur. Tidak banyak peran yang bisa diambil perempuan kala itu. Tunduk patuh para lelaki sebagai suaminya apapun kondisinya dan bagaimanapun perangainya.  Beberapa kali aku menjumpai beliau menangis dalam diamnya, kala itu diri ini belum paham apa yang sebenarnya sedang dirasakan olehnya. Kini setelah merasakan berumahtangga ternyata seberat itu yang harus dijalani. Sehingga dengan budaya patriarki tentu jauh lebih berat lagi. Dilarang protes bahkan tak pernah secara ekplisit mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya, pilihannya adalah nrimo dan pasrah menjalani kehidupan.

Ada saat dimana ibuku nampak begitu bahagia dalam diamnya, tubuhnya begitu segar di tahun 1996 ketka anak pertamanya pulang Kembali ke kampung setelah lama merantau, anak kedua sudah memulai membangun rumah tangganya dan anak ketiga diterima kerja, sedangkan anak keempat dan kelima masih sekolah. Dan beliau tetap pendiam dalam bahagianya tidak ada ekpresi yang berlebihanm wajahnya cerah senyumnya sumringah, itu saja yang nampak.

Fluktuasi kehidupan tak dapat dihindari, rupanya ibuku diuji ketahanan mental dalam diamnya dengan kondisi rumah tangga salah satu anaknya yang gonjang ganjing, begitu menguras emosi dan energinya, yang akhirnya nampaklah guratan kesedihan di raut wajahnya, senyum sumringahnya memudar, tubuhnyapun ikut merenta, dalam kondisi demikian, belaiu sangat luar biasanya beliau tetap tabah mampu melewati badai tersebut, berdiri kokoh dalam diamnya, tanpa curhat tanpa airmata, hanya sujud di malam hari sebagai tempat singgah yang menenangkan qalbunya.

Diujung masa hidupnya beliau terkena serangan stroke pada tahun 2019 tepatnya ditanggal 20 Oktober, pengobatan dilakukan terapi dilakukan apadaya faktor usia dan semangat hidup yang tak lagi menyala, membuat kondisi beliau terus menurun, tepat di hari Jumat 6 Agustus 2021 beliau kembali pulang kepada Pemilik sejatinya Allah Swt. In memoriam Ibuku Terima kasih teladan sabarnya.

Sungguh kepribadian yang sangat bertolak belakang, ibu mertuaku orang yang super extrovert, lugas, tegaas tanpa basa-basi. Omongannya kasar tapi memiliki hati yang sangat tulus, helpfull, sangat dermawan kepada siapapun, ga peduli keluarga ataupun orang lain, orang yang telah dikenal lama maupun yang baru dikenal. Beliau tidak memiliki pikiran jelek pada orang lain dan sangat pemaaf.

Ketika Bulan Ramadhan tiba beliau begitu antusias menyambutnya. Beberapa hari menjelang beliau akan melakukan perjalanan menuju cucu terjauh dan terbanyak. Kegemaran memasaknya sangat dinantikan cucunya, rendang, ayam goreng, sop iga, pindang tulang adalah menu andalan yang sangat digemari cucunya. Sop buah menjadi andalan minuman untuk buka puasa. Beliau begitu bahagia tatkala semua masakan ludes dalam sekejap, makin bersemangatlah beliau memasak.

Dua puluh hari Ramadhan berlalu, tibalah saat sepuluh hari terakhir. Itikaf di masjid merupakan salah satu moment yang membahagiakan beliau, selain memperbanyak ibadah, ada satu malam dimana beliau mendapatkan jatah masak bagi seluruh jamaah di masjid untuk sahur bersama, sop iga  menu andalan beliau yang pastinya disukai semua jamaah.

Setiap kelahiran cucunya beliau selalu mengusahakan hadir, dari 13 cucu beliau hanya 2 orang cucu yang tidak mendapatkan sentuhan beliau pasca kelahiran. Bahkan pernah suatu ketika beliau menghadiri kelahiran 3 cucunya yang yang hanya berselang beberapa hari dengan jarak yang berjauhan Surabaya, Jambi, Lampung. Itu dilakukan karena cinta dan sayangnya kepada anak cucu.

Suatu ketika menjelang anak keduaku lahir beliau sampai jam 2 siang setelah menempuh perjalanan Lampung Surabaya dengan naik bis. Karena tanda-tanda kelahiran makin jelas, tanpa istirahat kami ke rumah sakit dan 4 jam kemudian cucunya lahir. Malam-malam menantunya ini kalaparan pasca melahirakn dan beliau berjalan sendirian di Lorong rumah sakit yang sepi , mencari makanan apa saja agar menantunya bisa makan.

Pengalaman mendebarkan bersama ibu mertua  terjadi lagi saat aku melahirkan anak ke-3, terjadi pendarahan hebat 2 jam pasca melahirkan. Terasa ingin kencing dan bidan menyuruhku turun dari bed untuk kecing di kamar mandi. Bersamaan dengan kencing keluarlah darah segar seperti kran air. Sayup-sayup terdengar kepanikan bidan perawat dan ibu mertua ternyata aku pingsan karena terlalu banyak darah keluar. Segera badanku diangkat kembali ke bed dan dilakukan tindakan sesuai sop. Alhamdulillah kecekatan dan kesigapan ibu mertua menjadi kepanjangan tangan Allah menyelamatkanku.

Ketika waktunya sudah tiba ternyata seribu jalan menuju kepulangan. Virus Covid -19 yang sempat singgah di tubuh ibu mertua rupanya menajadi awal jalan kepualangan beliau, pasca Covid-19 tubuh beliau mulai menurun, tak lagi gesit seperti dulu, jalanpun mulai oleng sering terjatuh tanpa sebab dan mengakibatkan beberapa retakan di tulang belakang. Pengobatan dan terapi terus dilakukan akan tetapi sepertinya semangat beliau untuk sembuh telah terkikis oleh kondisi fisik yang terus melemah. Pada akhirnya beliau menyerah pada takdir , tepat malam takbiran 10 Dzulhijjah 1446 atau Jumat, 6 Juni 2025 beliau berpulang. In Memoriam Ibu mertua terima kasih teladan tulus dan baiknya hati. Dua jimat keramatku berpulang di Hari Jumat.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar