Kamis, 08 Januari 2026

S U W U N G

 

Hiruk pikuk dunia menyilaukan mata, indah penuh pesona dan menggoda. Nampak cantik elok rupawan bak gadis belia yang sedang mekar. Gedung tinggi pencakar langit, gemerlap lampu warna-warni menambah keindahan pandangan mata. Iklan barang aneka rupa, ditampilkan begitu menarik bagai sihir yang mengalihkan focus, seolah-olah itulah yang harus diraih digapai, kalau tidak maka dianggap sebagai bagian manusia yang gagal.

Teknologi baru terus diciptakan semakin canggih semakin memudahkan dan menyederhakan pekerjaan katanya demikian, tapi faktanya teknologi semakin canggih dan manusiapun semakin sibuk, semakin ruwet pikirannya, semakin banyak keinginan yang meminta untuk dipuaskan.

Satu keinginan terwujud gembira sejenak lalu berangan-angan lagi mencari keinginan baru untuk dipuaskan, walau sebenarnya kepuasan itu tak pernah benar-benar terwujud, kebahagiaan yang diangankan justru terasa semakin jauh.

Ada yang bilang keinginan manusia hanya langit yang membatasinya. Benarkah demikian? Pertanyaanya langit yang mana? Dimana langit? Apakah langit benar-benar ada? Ataukah sebenarnya langit itu adanya dalam hati tiap manusia, sehingga dia sendirilah yang bisa menentukan batasnya. Mari merenung..

Kesenangan dunia bak fatamorgana semakin dikejar semakin  lari, kesenangan dunia bagai minum air laut semakin diminum semakin kehausan, semakin ingin memuaskan kesenangan dunia, yang ditemui justru rasa semakin kekurangan. Mari menyadarinya… bukankah Tuhan sudah sering berbicara dengan umatnya, Ketika terlalu sibuk maka tubuh sakit, ketika terlalu banyak angan-angan maka hati menjadi gelisah, ketika terlalu khawatir dengan hari esok maka rasa cemas yang timbul dan tubuh merespon dengan gejala-gejala psikosomatis. Bukankah itu Bahasa Tuhan sebagai reminding system, sebagai pengingat manusia…

Sentilan Tuhan terkadang begitu halus lembut hampir tidak dikenali, lagi-lagi karena terlau haus  untuk mengejar meraih kesenangan sehingga teguran demi terguran lewat begitu saja seolah itu hanyalah kejadian biasa. Sampai pada satu titik jiwa terasa kosong, hati begitu kering makna, rongga dada serasa hampa. Tak tahu lagi harus kemana dan harus bagaimana yang terasa hanya kosong dan kering….

Pada titik nadir itulah baru dia ingat kalau memiliki rumah yang telah lama ditinggalkan, lama kosong tak berpenghuni atau sebenarnya berpenghuni hanya saja sang penghuni lupa kalau punya rumah dan sedang berada didalam rumah. Rumah sejati itu tidak pernah jauh, dia berada dalam hati yang selalu membersamai kemanapun pergi, hanya perlu menyadari, kalau sebenarnya punya rumah yang damai dan penuh cinta dan kasih saying. Rumah yang perlu dinyalakan lampunya yang perlu disirami tamannya dijaga kebersihannya, sehingga membuat sang penghuni betah berada di dalamnya. Pertanyaannya kapan mau pulang, mau pulang dengan sukarela atau dipaksa pulang.

Tuhan Maha Sabar, dia menunggu saat hamba menyadari keberadaanNya, hamba menyadari telah tiba waktunya untuk kembali pada kesejatian yang penuh welas asih, damai dan bahagia. Menanggalkan semua predikat yang menempal pada tubuh fisiknya, yang membuatnya lupa akan dirinya.

Dia mulai mencari cara untuk melepaskan atribut dirinya entah jabatan atau kepemilikan yang selama ini dianggap miliknya. Dia menyadaari keriuhan hati pikiran dan perasaanyalah yang membuatnya chaos, membuat lupa diri. Saat itulah dia mulai rasa hati dan jiwa yang tenang akan mampu membawanya  kembali pada diri sejati, yang  mampu mengalir pada skenario hidup yang tersedia tanpa berusaha memodifikasinya. Mustahil menerima skenario hidup bila pikiran perasaan hati pikiran dan perasaan yang  bergejolak, kunci awal hanyalah tenang, tenang dan tenang.

Menepi dan menyendiri sejenak terkadang diperlukan untuk lebih mawas diri, mengenal diri yang selama ini telah lupa diri, tertutup banyak atribut predikat yang sengaja disematkan demi mendapatkan pengakuan. Berdiam diri memungkinkan manusia berkomtemplasi, berdialog dengan diri sendiri untuk mulai mengenal dirinya kembali. Sehingga pelan-pelan segala atribut predikat yang menutupi diri sejati bisa dikelupas satu persatu.

Semua teori diatas barulah sbagai informasi yang diterima sehingga menjadi pengetahuan, tapi setidaknya pengetahuan bisa menjadi bekal diri saat mengalami.

Hidup penuh kejutan dan keajaiban berhias misteri indah, tiba-tiba covid datang tanpa permisi, tiba-tiba badai PHK tak tekendali, kaget, chaos, panik, takut, khawatir, cemas, serasa janjian datang bersamaan, membuat tubuh oleng mata berkunang-kunang, tak berani lagi mengunci pintu lawang karena takut tubuh akan tumbang, tak kuasa lagi memegang stang bulat maupun panjang, panik dikeramaian keringat dingin bercucuran, pundak dan tengkuk kaku seperti berisi bebatuan. Reset ulang hidup tak bisa ditunda lagi.

Beruntung masih tersisa sedikit kewarasan…dalam perenungan mulailah berpikir….mau  sampai kapan seperti ini? Takut cemas khawatir terus menerus, apakah kau menghina Tuhan berpikir ciptaanNya begitu rapuh dan gampang tumbang, bukankah Dia Yang Maha Sempurna tentu ciptaanNya pun sempurna. Maka diamkanlah pikiranmu…. merenunglah, berhentilah mengarang cerita honor dalam anganmu, cukupkanlah anganmu disini saat ini,jangan berlari terlalu jauh. Ajak angan, hati, dan pikiranmu diam menikmati, karena yang telah lewat tak akan kembali dan esok hanyalah ilusi.

Apakah semudah itu? Jawabnya TIDAK..ada penolakan-penolakan dari ego yang selalu mau dimenangkan. Apakah bisa..tentu bisa atau setidaknya paksa diri untuk bisa dan berlatih bisa, berlatih lagi, lagi dan lagi sampai pada satu titik terbiasa.

Melatih diri menjeda dalam hening suwung dan tenang maka segala yang datang menjadi melambat, mampu dipetakan dengan lebih jelas, mampu dipilah dan pilih, ke-chaos-anpun pelan-pelan terurai.

So dalam suwung tenang damai bahagia hadir membersamai, dalam hening memberi energi.. tercipta hal-hal baru tercipta kini. maka MARI MENGHENING MAKA AKAN MENCIPTA!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar