Hiruk pikuk
dunia menyilaukan mata, indah penuh pesona dan menggoda. Nampak cantik elok
rupawan bak gadis belia yang sedang mekar. Gedung tinggi pencakar langit,
gemerlap lampu warna-warni menambah keindahan pandangan mata. Iklan barang
aneka rupa, ditampilkan begitu menarik bagai sihir yang mengalihkan focus,
seolah-olah itulah yang harus diraih digapai, kalau tidak maka dianggap sebagai
bagian manusia yang gagal.
Teknologi baru
terus diciptakan semakin canggih semakin memudahkan dan menyederhakan pekerjaan
katanya demikian, tapi faktanya teknologi semakin canggih dan manusiapun
semakin sibuk, semakin ruwet pikirannya, semakin banyak keinginan yang meminta
untuk dipuaskan.
Satu keinginan
terwujud gembira sejenak lalu berangan-angan lagi mencari keinginan baru untuk
dipuaskan, walau sebenarnya kepuasan itu tak pernah benar-benar terwujud,
kebahagiaan yang diangankan justru terasa semakin jauh.
Ada yang bilang
keinginan manusia hanya langit yang membatasinya. Benarkah demikian? Pertanyaanya
langit yang mana? Dimana langit? Apakah langit benar-benar ada? Ataukah
sebenarnya langit itu adanya dalam hati tiap manusia, sehingga dia sendirilah
yang bisa menentukan batasnya. Mari merenung..
Kesenangan
dunia bak fatamorgana semakin dikejar semakin
lari, kesenangan dunia bagai minum air laut semakin diminum semakin kehausan,
semakin ingin memuaskan kesenangan dunia, yang ditemui justru rasa semakin
kekurangan. Mari menyadarinya… bukankah Tuhan sudah sering berbicara dengan
umatnya, Ketika terlalu sibuk maka tubuh sakit, ketika terlalu banyak
angan-angan maka hati menjadi gelisah, ketika terlalu khawatir dengan hari esok
maka rasa cemas yang timbul dan tubuh merespon dengan gejala-gejala psikosomatis.
Bukankah itu Bahasa Tuhan sebagai reminding system, sebagai pengingat manusia…
Sentilan Tuhan
terkadang begitu halus lembut hampir tidak dikenali, lagi-lagi karena terlau
haus untuk mengejar meraih kesenangan
sehingga teguran demi terguran lewat begitu saja seolah itu hanyalah kejadian
biasa. Sampai pada satu titik jiwa terasa kosong, hati begitu kering makna,
rongga dada serasa hampa. Tak tahu lagi harus kemana dan harus bagaimana yang
terasa hanya kosong dan kering….
Pada titik
nadir itulah baru dia ingat kalau memiliki rumah yang telah lama ditinggalkan,
lama kosong tak berpenghuni atau sebenarnya berpenghuni hanya saja sang
penghuni lupa kalau punya rumah dan sedang berada didalam rumah. Rumah sejati
itu tidak pernah jauh, dia berada dalam hati yang selalu membersamai kemanapun
pergi, hanya perlu menyadari, kalau sebenarnya punya rumah yang damai dan penuh
cinta dan kasih saying. Rumah yang perlu dinyalakan lampunya yang perlu
disirami tamannya dijaga kebersihannya, sehingga membuat sang penghuni betah
berada di dalamnya. Pertanyaannya kapan mau pulang, mau pulang dengan sukarela
atau dipaksa pulang.
Tuhan Maha
Sabar, dia menunggu saat hamba menyadari keberadaanNya, hamba menyadari telah
tiba waktunya untuk kembali pada kesejatian yang penuh welas asih, damai dan
bahagia. Menanggalkan semua predikat yang menempal pada tubuh fisiknya, yang
membuatnya lupa akan dirinya.
Dia mulai
mencari cara untuk melepaskan atribut dirinya entah jabatan atau kepemilikan
yang selama ini dianggap miliknya. Dia menyadaari keriuhan hati pikiran dan
perasaanyalah yang membuatnya chaos, membuat lupa diri. Saat
itulah dia mulai rasa hati dan jiwa yang tenang akan mampu membawanya kembali pada diri sejati, yang mampu mengalir pada skenario hidup yang
tersedia tanpa berusaha memodifikasinya. Mustahil menerima skenario hidup bila
pikiran perasaan hati pikiran dan perasaan yang bergejolak, kunci awal hanyalah tenang, tenang
dan tenang.
Menepi dan
menyendiri sejenak terkadang diperlukan untuk lebih mawas diri, mengenal diri
yang selama ini telah lupa diri, tertutup banyak atribut predikat yang sengaja
disematkan demi mendapatkan pengakuan. Berdiam diri memungkinkan manusia
berkomtemplasi, berdialog dengan diri sendiri untuk mulai mengenal dirinya
kembali. Sehingga pelan-pelan segala atribut predikat yang menutupi diri sejati
bisa dikelupas satu persatu.
Semua teori diatas
barulah sbagai informasi yang diterima sehingga menjadi pengetahuan, tapi
setidaknya pengetahuan bisa menjadi bekal diri saat mengalami.
Hidup penuh
kejutan dan keajaiban berhias misteri indah, tiba-tiba covid datang tanpa
permisi, tiba-tiba badai PHK tak tekendali, kaget, chaos, panik, takut, khawatir,
cemas, serasa janjian datang bersamaan, membuat tubuh oleng mata berkunang-kunang,
tak berani lagi mengunci pintu lawang karena takut tubuh akan tumbang, tak
kuasa lagi memegang stang bulat maupun panjang, panik dikeramaian keringat
dingin bercucuran, pundak dan tengkuk kaku seperti berisi bebatuan. Reset ulang
hidup tak bisa ditunda lagi.
Beruntung masih
tersisa sedikit kewarasan…dalam perenungan mulailah berpikir….mau sampai kapan seperti ini? Takut cemas khawatir
terus menerus, apakah kau menghina Tuhan berpikir ciptaanNya begitu rapuh dan
gampang tumbang, bukankah Dia Yang Maha Sempurna tentu ciptaanNya pun sempurna.
Maka diamkanlah pikiranmu…. merenunglah, berhentilah mengarang cerita honor
dalam anganmu, cukupkanlah anganmu disini saat ini,jangan berlari terlalu jauh.
Ajak angan, hati, dan pikiranmu diam menikmati, karena yang telah lewat tak
akan kembali dan esok hanyalah ilusi.
Apakah semudah
itu? Jawabnya TIDAK..ada penolakan-penolakan dari ego yang selalu mau
dimenangkan. Apakah bisa..tentu bisa atau setidaknya paksa diri untuk bisa dan
berlatih bisa, berlatih lagi, lagi dan lagi sampai pada satu titik terbiasa.
Melatih diri menjeda
dalam hening suwung dan tenang maka segala yang datang menjadi melambat, mampu
dipetakan dengan lebih jelas, mampu dipilah dan pilih, ke-chaos-anpun
pelan-pelan terurai.
So dalam suwung
tenang damai bahagia hadir membersamai, dalam hening memberi energi.. tercipta
hal-hal baru tercipta kini. maka MARI MENGHENING MAKA AKAN MENCIPTA!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar